Selasa, 24 Juni 2014

Bagian Tiga (Pada Mulanya Adalah Kata)





Ada seorang teman mengatakan bahwa budaya intelketualitas yang terbangun mesti dijauhkan dari hal-hal yang bersifat romantis. Itu ia katakan setelah membaca Kant tentang imperative kategoris moralitas, legalitas. Aku sempat merasa. Dan seperti biasa tertawa tipis mengiasi wajahku. Tapi bukankah Kant juga menekankan kebebasan suara hati adalah kewajiban setiap individu?. Ataukah ada konvensi khusus dalam budaya intelektual yang mesti ditaati? Sampai disini aku teringat bagaimana Muhammad membutuhkan Khadijah ketika seisi tubuhnya gematar saat menerima kata “Bacalah”. Iya, pada mulanya adalah Kata, kemudian berbentuk firman, dan itulah Tuhan. Dan melalui kata Adam diajarkan nama benda, melalui kata dunia hadir dalam serat maknawiah, dan dari sana kesadaran menyadari dirinya sendiri. Oh, Khadijah kaulah kata-kata dimana Muhammad manyampaikan sabda dan aku bisa seperti teman itu jika romantis dipahami dalam hal ini. Itu menurtku. Bagaimana?. O, lupakan tentang ini. Sudah jadi hal biasa bagiku dan teman itu tuk saling membicarakan hal-hal seperti ini. Saling kritik.

Diluar sana suasana pergantian tahun baru 2013 mulai terdengar. Terompet menyesak telinga. Berbagai model kartu ucapan diobral murah. Buah seperti jagung laris terjual. Dan tentunya muda-mudi telah menyiapkan agenda dimana menghabiskan tahun 2012 ini. Andai diantara kita ada mampu melintasi kejauhan bima sakti, maka tiap saat petasan selalu dalam kedipnya, dan pergantian hari tak pernah terjadi dalam semesta yang maha luas ini. waktu bukanlah pergantian hari, jam dan lainnya, tapi merupakan bagian dari manifest suci yang membuat semesta masih tetap seimbang. Dan, Khadijah adalah bagian dari keseimbangan Muhammad. Wah, tak nyambung yah? well, ada namanya metafora dan metonimi, univocal atau polisemik. Tinggal memilih pisau tuk membedah ketidaknyambungan ini.

Satu kebiasaanku yang sering kualami ketika bukuku dipinjam adalah selalu mengingatnya. Semakin lama semakin dalam ingatnya. Dan ada beberapa buku yang dipinjam oleh orang yang berbeda. Dalam hal ini aku seperti seorang pakar yang tau banyak hal, tapi hal itu bagiku bukanlah suatu kelebihan, melainkan bagaimana cara kita untuk mencari informasi. Dan kecerdasan seseorang adalah bagian dari seberapa banyak ia mencari informasi.  Aku mendapat pesan singkat, bukan pertanyaan melainkan  pengakuan dari seorang peminjam buku itu “diksi novel ini sungguh mengasikan, Kak”. Wah, ketuaanku semakin menjadi. Salah satu hal tidak aku sukai adalah dipanggil kakak, apalagi kakanda. Ada alasan untuk itu. Saya tidak menyukain pertemanan yang dalam lingkup senioritas-junioritas sebab terdapat arogansi intelektual seolah senior adalah yang tahu segalanya. Dan ini menyakitkan apalagi membodohi.

Yah, dia, perempauan itu, yang melalui pesan singkat membuat seisi ragaku terbawa dalam senyum bahagia. Apakah senyum ini adalah bagian dari daya magnetis dari senyum indahnya pula? Aku tak tahu, tapi seperti kata teman, dan memang itu yang aku lihat, bahwa dari totalitas kediriannya yang tergambar hanyalah senyum, dan tawa keceriaan. Dan kelak permintaanku yang paling mendasar padanya “tetaplah tersenyum pada dunia, dan duniapun pasti akan tersenyum kepada kehidupan”. Permintaan yang aneh.

“Iya, itulah kelebihan Italy Calvino”, jawabku padanya, dan selanjutnya kami saling berbalas pesan. Sebuah kesempatan bagiku tuk mengkonfirmasi kedekatan yang lebih. Maksudnya lebih dekat agar Tanya jawab, seputar isi novel, lebih terakrabi. Tapi, dibalik saling berbals pesan itu ada sebuah energy, menyerupai energy potensial, yang menggairahkan kenakalan semantikku untuk melihat dan membaca lebih dalam kediriannya dalam kata. Sampai disini, aku meresa terjebak dengan semantic kuasaku sendiri bahwa aku mencintai kata-kata, dan melalui kata-kata hubungan ini terbangun. Oh aku semakin gemetar ketika membaca cerpen pada bloognya, yang aku tahu ditujukan padaku. Semoga bukan GR.

Tak lama berselang buku itu ia kembalikan, dan ia memberanikan diri untuk datang ke biara. Ah, aku harus sempurna. Maksudnya ruangan yang berantakan, asbak rokok yang penuh puntung, pakaian yang tak dilipat buku yang terhambur sana sini dengan segera dirapikan. Bukan saja aku tapi teman-teman turut menjadi tim pembersih. Bakti seperti menjelang tujuh belasan “ayo cepat rapikan sebelum datang tim penilai”. Oh bukan, mau datang seorang hawa. Suatu kejadian langka di biara selain teman perempuan yang sudah sering.

Ia datang, dan yang pertama diri disapa bukan diriku. Tenang!!, mengelus dada. Bukan juga teman-teman, tapi justru tumpukan buku yang lama ia pandangi. Akh, aku berhasil, toh sama halnya ia sedang memandang kebijaksanaanku—hummm, kesombongan yang tak perlu. Dan aku salah tingkah, iya salah tingkah dihadapan teman-teman yang nakal bercandanya. ia pun mencoba satu dalam canda membuat suasana jadi akrab. Ini kelebihannya yang senang bergaul. Oh iya, ada yang terlupa, beberapa menit sebelum kedatangannya, aku kerepotan membeli minuman untuk dihidangkan, aku tak punya uang ketika itu. Tapi, itulah keuntungan bertemen. Terimakasih, terimakasih.

Matanya memandang kearah tumpukan buku dipojokkan biara, aku mengambil posisi duduk berhadapan, semnetara teman-teman mengambil duduk yang tak jauh dari perempun itu. Biara seperti tertimpa ribuan cahaya, dan bintik bintik noda yang melekat pada dinding dan plafon berubah menjadi gemintang dimalam hari. tapi ada matahari yang lebih bercahaya menyinari biara bak istana pangeran William di prancis sana. Tidak sampai 20 menit biara penuh cahaya, dan “saya pulang dulu Kak”.  Iya, dia berpamitan mesra kepada teman-teman, dan tentunya ada sebuah isyarat suci dari matanya yang jika dibarter dengan kata-kata merupakan sebuah ucapan terimaksih yang lebih mesra padaku dari yang ia ucapakn pada mereka yang nakal dalam bercanda itu. Ia pulang dengan membawa pinjam kembali sebuh novel,  Kata-kata, novel biografis Jean Paul Sartre yang sangat aku kagumi itu.  “ku akhiri hidupku sebagaimana aku mengawalinya, dalam tumpukan buku” itu kata Sartre, dan aku semakin jatuh dalam kata-kata.

bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar