Matahari dalam puncak teriknya, aku membayangkan bagaiamana
sebagian besar manusia yang berdinding seng ruamhnya. Seperti roti dalam open
pembakaran, itu bayanganku. Terserah apa bayangnmu. Tapi, seperti kultur bangsa
jepang dalam menghadapi pergantian musim; jika tiba musim kemarau, merka
memajang gambar atau lukisan yang bernunsa salju, air terjun dan hujan. Ketika musim
salju, mereka memasang gambar yang bernuansa matahari atau teriknya gurun
pasir. Poin pentingya adalah mereka menggunakan logika negativitas dalam
menghadapi pergantian cuaca agar tubuh tetap seimbang. Mungkin inilah cara akal
dalam menggunakan Chi dalam diri; sebuah energy kosmik dalam tubuh manusia yang
menurut mereka, jepang, sebagai pusat
kedirian, dimana suasana hati, atau hati terdalam mampu menetralisir berbagai
macam ancaman terhadap tubuh kita. Oh, aku jadi ingat sebuah sabda ‘yang
mengenal dirinya akan mengenal Tuhannya’.
Aku mencoba munggunakan energy itu,
itu, bukan dengan logika negativitas pada gambar atau lukisan, tapi ratusan
buku yang berada dalam biara itu mampu membawaku dalam iklim filosofis,
sehingga terik matahari yang dalam puncak teriknya aku rasakan sebagai bagian
dari cahaya kebijaksanaan yang mencoba menyinariku dengan hikmatnya.
Semakin tenggelam aku membaca
gravitasi dan geomerti itu, dan akupun bertanya pada teman yang saat itu lagi
bersama. “gravitasi melengkungkan ruang waktu, apakah akal pikiran juga bisa dipengaruhi
gravitasi?”. Jika akal pikiran menyerupai materi, maka bias jadi”, jawab teman
dengan nada seperti seorang pakar sains. Ups, dia memang banyak tentang itu. “Tapi
sebentar”, lanjut teman sambil menghadapkan badanya tegak lurus dengan ku, “kenapa
akhir ini kamu sering bertanya soal akal, pikiran, perasaan? Hmm.. sebuah
pertanyaan jebakan. Aku harus lari dari poin pembahasan.
Kenapa?. Tuntut teman itu dengan sedikit tawa mengejek, bercanda. “Yah, kebetulan saja saya sedang membaca
fisika”.
“Fisika punya banyak objek lho”
Yah, termasuk Gravitasi kan?
“Apa kamu mau mengulangi kembali
tesismu tentang perasaan bisa dipengaruhi gravitasi?” ayoo, siapa lagi penyebab
gravitasi itu?. Teman-temanku semakin bercanda. Dan aku berhasil lolos
ketika ibu kost datang menagih uang listrik dengan nada marah-marah. Maklum tunggakan.
Beberapa hari kemarin, aku memang mempelajari gravitasi yang hingga
kini belum ditemukan dasar partikelnya itu, gravitum. Dan jika menggunakan
logika Butterflya Effect, dan memhami makna dasar makna kata cosmology, aku
sampai pada sebuah tesis yang metafisis bahwa pikiran adalah materi yang bisa
dipengaruhi gravitasi. Tapi, butuh konsepsi matematis, oh andaikan waktu
sekolah aku tidak sering bolos mata pelajaran yang satu ini.
Akh, persetan dengan Einstein, bukuku lebih penting Untuk saat ini. “Buku yang mana?” mucul lagi si pesimis
dengan Tanya sinisnya. “Iya, Madame
Bovary yang dipinjam perempuan itu. “buku atau yang minjam? Jawab yang muncul
dari kedalaman dada. Dubrakk.. serangan linguistik secara tiba-tiba dengan
peluru semantiknya, membawa kebahasaanku pada permainan sintagmatik juga paradigmatic
yang akut. Aku tersenyum sembunyi ketika itu. Sembunyi dari penglihatan
teman-teman yang sering nakal membaca tanda. Dan tiba-tiba, ponsel bergetar
sebagai jawab pesanku yang kukirimkan padanya setelah ia meminjam buku itu. “anggap
saja buku milik sendiri, biar bisa disayangi, dicintai agar dapt dijaga”.
Nampaknya, beberapa hari kemudian, dia, perempuan itu telah selesai
membaca. Dan melalui bloognya, ia membuat resensi yang memang ditujukan padaku,
seperti yang aku minta. Dan, pertemuan ketiga kan terjadi. Kami bertemu didepan
gerbang sebuh kampus, tepat disebuah lesehan. Sambil makan, ia menatap dan mengucapkan
padaku terima kasih karena sudah memperkenlakan gustave padanya. Akh, jangan
natap mataku seperti itu. Please. Bicara aja, mungkin bisa lihat makananmu. Gumamku
dalam hati. Inilah ketakutan itu. Tapi, aku mencoba menjadi seperti penjual
buku yang tau banyak nama penulis, memberinya informasi tentang penulis-penulis
besar prancis, jerman, Italy, dan… ia menyimak dengan nada pengehayatan lebih.
Kali ini, aku sedikit berani menatap matanya. Deg-deggan.
Saat itu jam sepuluh malam. Kendaraan masih ramai berlalu lalang. Lesehan
yang dekat dengan jalan raya itu membuat kita seperti berada dalam sebuah
sirkuit balapan. Maklum ada kesenangan tersendiri jika suara kendaraan
diperbsar, lalu diiringi kecepatan tinggi. Mungkin benar kata Marquis De Sade,
bahwa kenikmatan itu dekat dengan kematian. Tapi, ups, kali ini Einstein benar
dengan relativitasnya, aku mendunia bersama kematian yang mebahagiakan sehinga
gaduh suara kendaraan berubah menjadi sekelompok orchestra memainkan musik dari
Mozart, dalam komposisi Elvira Madigan, tuk mengiringi kebersamaan itu.
“Tapi aku kurang suka dengan
akhir cerita ini, Kak.” Wah, dia memanggilku kak!?. Maklum ketuaan. sabar,
sabar. “Dimana kurang sukanya?”, jawabku
sambil sedikit berani memandang kedua bola mata bundar itu. “kurang suka karena tidak ada hukuman yang
mesti diberikan ke istri Charles bovary”. Wah, semua pembaca Gustave,
tentang novel ini memilik kesamaan Tanya. Mungkin kultur ketimuran kali,
mugkin. Tapi tidak juga, pembaca eropa punya sama dalam Tanya dan itu yang
membuat Gustave sempat dipenjara karena novel ini. Oh, aku harus menemukan
jawaban. Dan, “gimana pendaptamu tentang
keseluruhan isi novel ini? Tanyaku dengan jawaban yang sudah kusiapkan. “iya, bagus sih, tidak sulit dipahami,
diksi yang asik, menenggelamkan tapi itu, akhir ceirta yang kurang aku sukai,
Kak”. Huh, Kak lagi dia panggil, mana cermin, mana cermin!!. “begini” jawabku sambil meneguk air
mineral, “saya pun kurang suka akhir
ceritanya, tapi Flaubert, penulisnya memberikan keputusan akhir dari novel itu
kepada pembaca”. Perempuan menyimak lebih dalam lagi, dan,… “ketika kita tidak sepakat maka itulah
endinganya, dan kalimat itu yang membuat Flaubert bebas dari Penjara”. Dia,
perempuan itu tersnyum tipis, dan lesung pipitnya semakin dalam. Dan aku …. !?
Sudah setengah sebelas, aku
harus pulang, Kak. Pamitnya padaku. Tapi,
apa ada novel lain yang boleh ku pinjam lagi”?. Tanyanya. Tanpa banyak basa
basi aku memberikan padanya sebuah novel kalsik, Gli Amory Difficuli, sebuah
petualangan cinta yang tak biasa karangan Italy Calvino. Aku kembali pulang ke
biara, dan saat itu semua teman-temanku sedang pergi ke gedung kesenian, ada
pementasan, teratrikal dan puisi. Aku mengambil kertas dan membuat sebuah
sintesa antara Einstein, Ikbal dan Enst Mach. Jika bintang dilangit mengalami
ledakan nova, pastilah mempengaruhi struktur alam semesta, dan kemewaktuan
sejati manakala kita berada dalam nusansa transenden. Maka maaf kepada
Einstein, aku tak percaya padamu bahawa gravitasi tidak berhubungan dengan
jatuh cinta. Maaf, semuanya punya hubungan karena gravitasi adalah energy
kerinduan menyatukan segala hal dalam makro hingga mikrokosmos yang terpisah semenjak ledakan big bang.
“Akh, ada-ada saja kamu”. Jawab
teman stelah aku tanyakan kembali, “butuh
proposisi untuk itu” ia menentang. “kamu
sendiri mengtakan jika akal pikiran adalah materi maka bisa jadi kan?, Butterflay
effect megajarkan kita untuk memahami keterhubungan segala sesuatu”, sanggaku
dengan nada mendekati serius, dan prinsip Mach pun begitu, iya kan?. “tapi, apa
hubungan gravitasi dangan jatuh cinta?”. Wah semakin menentang teman ini, dan
memang suka mengkritisi. “anda suka memakai baju warna hitam, dan warna hitam
itu bukanlah objektivitas yang melekat padanya, tapi hanya berupa kesan
pengindraan pada kesadaran saya”, aku menanggapi dan melanjutkan “begitu juga
langit hanya kesan kebiruan pada kesadaran, dan itu terjadi lantaran gelombang
yang berasal dari yang memiliki dualitas. Ketika aku melihat keindahan,
kecantikan dan mengaguminya, itu berarti ada kesan gelombang yang sampai pada
kesadaranku, dan ketika aku jatuh cinta pada seseorang, baik pada tata laku,
kecantikan, kebaikan, kecerdasan itu lantaran gelombang material pada orang itu
yang menyentuh kesadaranku. Tidakah gravitasi disebkan oleh materi? Dari sinilah
aku mengatakan garavitasi membuat aku jatuh cinta.
Apa?, kamu jatuh cinta pada perempaun yang pinjam novel itu?, tanyanya
jebak dalam permainan paradigmatik. Dan aku kehilangan control saat memberikan
senyum. “Ups, kita sedang membicarakan
gravitas lho”, aku membela diri, tapi teman itu pandai membaca tanda dan Pecah
tawa teman-teman dalam nuansa bercanda. Huh, mereka, teman-temn itu sok tahu,
dan aku tersenyum kemenangan. maaf
Eisntein. Untuk kali ini aku tak sependapat denganmu.
bersambung...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar