Minggu, 22 Juni 2014

Bagian dua (Pada Mulanya Adalah Kata)



Matahari dalam puncak teriknya, aku membayangkan bagaiamana sebagian besar manusia yang berdinding seng ruamhnya. Seperti roti dalam open pembakaran, itu bayanganku. Terserah apa bayangnmu. Tapi, seperti kultur bangsa jepang dalam menghadapi pergantian musim; jika tiba musim kemarau, merka memajang gambar atau lukisan yang bernunsa salju, air terjun dan hujan. Ketika musim salju, mereka memasang gambar yang bernuansa matahari atau teriknya gurun pasir. Poin pentingya adalah mereka menggunakan logika negativitas dalam menghadapi pergantian cuaca agar tubuh tetap seimbang. Mungkin inilah cara akal dalam menggunakan Chi dalam diri; sebuah energy kosmik dalam tubuh manusia yang menurut mereka, jepang,  sebagai pusat kedirian, dimana suasana hati, atau hati terdalam mampu menetralisir berbagai macam ancaman terhadap tubuh kita. Oh, aku jadi ingat sebuah sabda ‘yang mengenal dirinya akan mengenal Tuhannya’. 

Aku mencoba munggunakan energy itu, itu, bukan dengan logika negativitas pada gambar atau lukisan, tapi ratusan buku yang berada dalam biara itu mampu membawaku dalam iklim filosofis, sehingga terik matahari yang dalam puncak teriknya aku rasakan sebagai bagian dari cahaya kebijaksanaan yang mencoba menyinariku dengan hikmatnya.

Semakin tenggelam aku membaca gravitasi dan geomerti itu, dan akupun bertanya pada teman yang saat itu lagi bersama. “gravitasi melengkungkan ruang waktu, apakah akal pikiran juga bisa dipengaruhi gravitasi?”. Jika akal pikiran menyerupai materi, maka bias jadi”, jawab teman dengan nada seperti seorang pakar sains. Ups, dia memang banyak tentang itu. “Tapi sebentar”, lanjut teman sambil menghadapkan badanya tegak lurus dengan ku, “kenapa akhir ini kamu sering bertanya soal akal, pikiran, perasaan? Hmm.. sebuah pertanyaan jebakan. Aku harus lari dari poin pembahasan.

Kenapa?. Tuntut teman itu dengan sedikit tawa mengejek, bercanda. “Yah, kebetulan saja saya sedang membaca fisika”.
“Fisika punya banyak objek lho”
Yah, termasuk Gravitasi kan?
“Apa kamu mau mengulangi kembali tesismu tentang perasaan bisa dipengaruhi gravitasi?” ayoo, siapa lagi penyebab gravitasi itu?. Teman-temanku semakin bercanda. Dan aku berhasil lolos ketika ibu kost datang menagih uang listrik dengan nada marah-marah. Maklum tunggakan.

Beberapa hari kemarin, aku memang mempelajari gravitasi yang hingga kini belum ditemukan dasar partikelnya itu, gravitum. Dan jika menggunakan logika Butterflya Effect, dan memhami makna dasar makna kata cosmology, aku sampai pada sebuah tesis yang metafisis bahwa pikiran adalah materi yang bisa dipengaruhi gravitasi. Tapi, butuh konsepsi matematis, oh andaikan waktu sekolah aku tidak sering bolos mata pelajaran yang satu ini.

Akh, persetan dengan Einstein, bukuku lebih penting Untuk saat ini. “Buku yang mana?” mucul lagi si pesimis dengan Tanya sinisnya.  “Iya, Madame Bovary yang dipinjam perempuan itu. “buku atau yang minjam? Jawab yang muncul dari kedalaman dada. Dubrakk.. serangan linguistik secara tiba-tiba dengan peluru semantiknya, membawa kebahasaanku pada permainan sintagmatik juga paradigmatic yang akut. Aku tersenyum sembunyi ketika itu. Sembunyi dari penglihatan teman-teman yang sering nakal membaca tanda. Dan tiba-tiba, ponsel bergetar sebagai jawab pesanku yang kukirimkan padanya setelah ia meminjam buku itu. “anggap saja buku milik sendiri, biar bisa disayangi, dicintai agar dapt dijaga”.

Nampaknya, beberapa hari kemudian, dia, perempuan itu telah selesai membaca. Dan melalui bloognya, ia membuat resensi yang memang ditujukan padaku, seperti yang aku minta. Dan, pertemuan ketiga kan terjadi. Kami bertemu didepan gerbang sebuh kampus, tepat disebuah lesehan. Sambil makan, ia menatap dan mengucapkan padaku terima kasih karena sudah memperkenlakan gustave padanya. Akh, jangan natap mataku seperti itu. Please. Bicara aja, mungkin bisa lihat makananmu. Gumamku dalam hati. Inilah ketakutan itu. Tapi, aku mencoba menjadi seperti penjual buku yang tau banyak nama penulis, memberinya informasi tentang penulis-penulis besar prancis, jerman, Italy, dan… ia menyimak dengan nada pengehayatan lebih. Kali ini, aku sedikit berani menatap matanya. Deg-deggan.

Saat itu jam sepuluh malam. Kendaraan masih ramai berlalu lalang. Lesehan yang dekat dengan jalan raya itu membuat kita seperti berada dalam sebuah sirkuit balapan. Maklum ada kesenangan tersendiri jika suara kendaraan diperbsar, lalu diiringi kecepatan tinggi. Mungkin benar kata Marquis De Sade, bahwa kenikmatan itu dekat dengan kematian. Tapi, ups, kali ini Einstein benar dengan relativitasnya, aku mendunia bersama kematian yang mebahagiakan sehinga gaduh suara kendaraan berubah menjadi sekelompok orchestra memainkan musik dari Mozart, dalam komposisi Elvira Madigan, tuk mengiringi kebersamaan itu.

“Tapi aku kurang suka dengan akhir cerita ini, Kak.” Wah, dia memanggilku kak!?. Maklum ketuaan. sabar, sabar. “Dimana kurang sukanya?”, jawabku sambil sedikit berani memandang kedua bola mata bundar itu. “kurang suka karena tidak ada hukuman yang mesti diberikan ke istri Charles bovary”. Wah, semua pembaca Gustave, tentang novel ini memilik kesamaan Tanya. Mungkin kultur ketimuran kali, mugkin. Tapi tidak juga, pembaca eropa punya sama dalam Tanya dan itu yang membuat Gustave sempat dipenjara karena novel ini. Oh, aku harus menemukan jawaban. Dan, “gimana pendaptamu tentang keseluruhan isi novel ini? Tanyaku dengan jawaban yang sudah kusiapkan. “iya, bagus sih, tidak sulit dipahami, diksi yang asik, menenggelamkan tapi itu, akhir ceirta yang kurang aku sukai, Kak”. Huh, Kak lagi dia panggil, mana cermin, mana cermin!!. “begini” jawabku sambil meneguk air mineral, “saya pun kurang suka akhir ceritanya, tapi Flaubert, penulisnya memberikan keputusan akhir dari novel itu kepada pembaca”. Perempuan menyimak lebih dalam lagi, dan,… “ketika kita tidak sepakat maka itulah endinganya, dan kalimat itu yang membuat Flaubert bebas dari Penjara”. Dia, perempuan itu tersnyum tipis, dan lesung pipitnya semakin dalam. Dan aku …. !?

Sudah setengah sebelas, aku harus pulang, Kak. Pamitnya padaku. Tapi, apa ada novel lain yang boleh ku pinjam lagi”?. Tanyanya. Tanpa banyak basa basi aku memberikan padanya sebuah novel kalsik, Gli Amory Difficuli, sebuah petualangan cinta yang tak biasa karangan Italy Calvino. Aku kembali pulang ke biara, dan saat itu semua teman-temanku sedang pergi ke gedung kesenian, ada pementasan, teratrikal dan puisi. Aku mengambil kertas dan membuat sebuah sintesa antara Einstein, Ikbal dan Enst Mach. Jika bintang dilangit mengalami ledakan nova, pastilah mempengaruhi struktur alam semesta, dan kemewaktuan sejati manakala kita berada dalam nusansa transenden. Maka maaf kepada Einstein, aku tak percaya padamu bahawa gravitasi tidak berhubungan dengan jatuh cinta. Maaf, semuanya punya hubungan karena gravitasi adalah energy kerinduan menyatukan segala hal dalam makro hingga mikrokosmos yang terpisah  semenjak ledakan big bang.

“Akh, ada-ada saja kamu”. Jawab teman stelah aku tanyakan kembali, “butuh proposisi untuk itu” ia menentang. “kamu sendiri mengtakan jika akal pikiran adalah materi maka bisa jadi kan?, Butterflay effect megajarkan kita untuk memahami keterhubungan segala sesuatu”, sanggaku dengan nada mendekati serius, dan prinsip Mach pun begitu, iya kan?. “tapi, apa hubungan gravitasi dangan jatuh cinta?”. Wah semakin menentang teman ini, dan memang suka mengkritisi. “anda suka memakai baju warna hitam, dan warna hitam itu bukanlah objektivitas yang melekat padanya, tapi hanya berupa kesan pengindraan pada kesadaran saya”, aku menanggapi dan melanjutkan “begitu juga langit hanya kesan kebiruan pada kesadaran, dan itu terjadi lantaran gelombang yang berasal dari yang memiliki dualitas. Ketika aku melihat keindahan, kecantikan dan mengaguminya, itu berarti ada kesan gelombang yang sampai pada kesadaranku, dan ketika aku jatuh cinta pada seseorang, baik pada tata laku, kecantikan, kebaikan, kecerdasan itu lantaran gelombang material pada orang itu yang menyentuh kesadaranku. Tidakah gravitasi disebkan oleh materi? Dari sinilah aku mengatakan garavitasi membuat aku jatuh cinta.

Apa?, kamu jatuh cinta pada perempaun yang pinjam novel itu?, tanyanya jebak dalam permainan paradigmatik. Dan aku kehilangan control saat memberikan senyum. “Ups, kita sedang membicarakan gravitas lho”, aku membela diri, tapi teman itu pandai membaca tanda dan Pecah tawa teman-teman dalam nuansa bercanda. Huh, mereka, teman-temn itu sok tahu, dan aku tersenyum kemenangan.  maaf Eisntein. Untuk kali ini aku tak sependapat denganmu. 

bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar