Selasa, 08 Juli 2014

Bagian Keempat



Ponselku bergetar tanpa nada, dari getarannya aku tahu ini sebuah pesan. Sebuah undangan untuk menghadiri diskusi tentang intertekstualitas. Jangan heran diabad digital ini, undanganpun sudah bisa melalui pesan inbox dan aku tahu sekarang jarang sekali ada muda-mudi, terutama yang pacarannya jarak jauh, tidak lagi saling bersurat. Padahal ada kesan tersendiri didalamnya; kata seorang teman kalau kita lebih memahami emosi sang pengirim melalui karakter tulisannya. Betulkah?.

Intertekstualitas. Pasti yang tersirat adalah Julia Kristeva, seorang postfeminis juga kritikus sastra asal Prancis. Dari Kristeva aku jadi sadar dan mulai terima dipanggil Kakak oleh si dia. tepat bulan Juni Kristeva lahir, sama bulan dengan perempuan itu yang juga lahir bulan juni. Aku lebih tua empat tahun. Gemetaran kembali tubuhku. Entah, setiap kali teringat itu yang kualami. Gemetar, bergerak kesani sini naluri lekaku. Aku bergerak membuka akun; agar tetap seimbang, maka teruslah bergerak, itu yang aku tulis dalam akun—Bukan kata-kataku, tapi Einstein dalam surat kepada anaknya, Eduardo.

Iya, dia perempuan itu. jika perespsi dunia modern tentang yang bagaimanakah kecantikan, mungkin dia tak masuk dalam indeks linguistic modern itu. Aku hanya merasakan adanya keselarasan kosmik yang bertuan dalam daftar kebutuhan eksistensialku; sebuah eksistensi Heideggerian, yang darinya aku merasakan sang Ada terlempar dalam suatu kemenjadian bersama, tentunya dengan si dia. Dan kemenjadian ini memberikan suatu momen-momen manis tuk meraasakan getar Harmonia Praestabilyta; suatu kepercayaan mutlak bahwa segala hal dimuka bumi, semenjak bumi tercipta, selalu berada dalam keadaan yang seimbang, tersambung, harmonis. Aku merasakan itu saat mengingitanya.

Aku harus terus bergerak, menjaga keseimbangan yang telah mengalami fusi dari ketertagantungan pada suatu horizon tunggal. Suatu horizon idealitas hermeneutic, yang dalam skala filosofis, merupakan bentuk kemenjadian, bentuk kebutuhan keAkuanku yang darinya aku merasa hidupku lebih hidup sebagai anak zaman yang butuh sentuhan halus dari dimensi Kasih keIlahian yang mungkin ada padanya.

Sartre sedang ada padanya. Dan tentu, seperti doa Sartre, doakupun sama akan kediriannya berakhir pada pemilik buku itu. pemilik buku, bukan penulisnya. “sepertinya teman kita yang satu ini sedang dalam masa keemasannya”. Canda seorang teman yang selalu menangkap aura kebahagiaanku. “apa?? masa keemasan?, akh kau, seperti the Golden Age filsafat timur aja”. Juga jawabku bercanda. Saat itu aku dan teman-teman sedang santainya didepan biara, tepat dibawah sebuah pohon mengkudu. Tembok pagar yang tidak terlalu tinggi, sekitar satu setengah meter, dengan halaman tak begitu lebar membuat keakraban semakin kentara dalam kedekatan badani. “tapi untuk siapa tulisan dalam bloog itu, yang judulnya “menemukanmu dalam kata”. Oh, ternyta mereka diam-diam sedang merekam perjalanaku. Huh, aku hanya terjebak dalam Tanya yang memang sebuah jebakan. Mereka semua, teman-teman itu, tertawa mengetahui ketersembunyianku. “Oh, kau kurang cerdas menyembunyikan tanda, kawan”, kata seorang teman dibarengi tawa canda.

Saat itu semua teman-teman bergegas menghadiri diskusi bertemakan Intertekstualitas itu, aku memilih sendiri, bukan dalam biara tapi pergi ke suatu tempat. Suatu tempat yang kurang lebih satu tahun kami telah berada disana.  Suatu perkampungan ditengah kota yang menjadi bukti kebringasan pemodal, keberpihakan Negara pada kapitalisme dimana telah terjadi suatu kejahatan adminstratif dari badan pertanahan untuk membuat sertifikat ganda bahwa tanah yang kurang lebih tiga hektar itu milik pemodal bukan milik masyarakt miskin tersebut. Suatu kejahatan yang menusuk hati, yang karena naluri hewani dalam kemanusiaan, membuat kami juga satu rasa dalam merasakan ketidakadilan itu. inilah alasan kami berada disana.

Tapi ditengah perjalanan, aku menima pesan inbox. Ada suatu kebiasaan yang sering aku rasakan. Setiap dering pesan, ada naluri yang bisa menebak kalau ini pesan dari si ini atau si itu. dan tebakan itu selalu benar. Kini, tebakan itupun benar; dari perempuan itu. ada suatu kebahagiaan tersendiri. Dia menjawab tawaranku untuk bersama menginjungi gramedia. Maklum ada sedikit tamu pada saku celanaku; sebuah kesempatan untuk memperkenalkan padanya tentang nama-nama penulis yang sering ia tanyakan. Tapi, iya, inilah gramedia yang kurang begitu familiar dengan penulis-penulis yang aku sukai.

Aku melihat waktu pada ponsel, pukul 17:00. Perempuan itu pasti sudah rehat dari kerjanya. Ia memilih gramedia karena berdektan dengan tempat kerjanya. Iya, disamping kuliah dia juga bekerja, dan punya usaha kecil untuk mengurangi beban keluarga. Dan selanjutnya baru aku tahu kalau dia juga memliki peran dan tanggung jawab dalam membiayai kuliah adiknya disalah satu perguruan tinggi swasta. Kedua orang tuanya sudah boleh dikata telah berada pada usia senja. Dan aku hanya tau kalau ibunya adalah seorang penjahit. Sebuah pekerjaan mulia yang dipandang sebelah mata oleh peradaban yang gila ini.

Aku bergegas, memutar arah menuju gramedia. Sudah sekita 15 menit dia menunggu. Ketika langkahku mendekat, aku melihat senyumnya menyapa dengan hangatnya. Ups, aku nampaknya kegeeran, selalu mendefiniskan aura bahagianya hanya tertuju padaku. Huh, belum lama padahal aku mengenalnya; Biar saja!!. Naluriku memiliki kemerdekaan tersendiri, membuatku dalam sekejap menjadi seorang individualis, dan terserah apakah kepalaku berimajinasi. Sebuah imajinasi ala fisikawan yang membayakan gemintang menjadi nova, kemudian melahirkan bintang baru penuh cahaya dalam dada.

Kami bergegas masuk,  menaiki tangga menuju lantai dua. Dalam perjalanan kami berpapasan dengan banyak muda-mudi dengan penampilan-penampilan serba wah. Maklum inilah Pasar modern, Mall. Aku jadi ingat Deleuze Guittari yang manamkannya sebagai mesin hasrat. Semua bentuk kehidupan sosial telah terkode dalam rangkaian modal: cinta pun terreduksi dalam seberapa besar kemewahan yang melekat pada tubuh yang cepat membusuk ini. Apakah menuju gramedia merupakan jebakan mesin hasrat?. Bisa iya, bisa tidak. Dan aku masih tetap yakin, dan memang seperti itulah bahwa kepergianku ketengah hiruk pikuk pameran seksualitas ini hanya ke seutu tempat; Gramedia yang kebetulan berada pada lantai dua. Lebih dari itu aku belum pernah mengunjungi. Ups, satu kali pernah, ke tempat penjualan kaset. Dalam ingatan aku membeli sebuah album, coldplay. Aku senang sama lirik Yellow yang puitis itu. mungkin itu alasannya selain mengunjungi toko buku itu.

Rak yang pertama kami kunjungi adalah filsafat. ‘Maaf teman jalanku, ada sedikit ego mendorongku ke rak ini, maaf, ini kebiasaan yang selalu mengunjunginya ketika ke toko buku, bukan saja di gramedia. Disela-sela mata menjejali ratusan judul yang terpampang didepan mata, aku sedikit mencuri pandangan; memandangnya yang juga sementar menjejali. Semoga filsafat tidak asing baginya, dan aku smpat berfikir ia pasti bosan atau tidak suka berada pada rak  filsafat yang kebanyak tidak diminat—ooh maaf perempuanku.

Rasa kekikukanku disampingnya sedikit tergusur dengan beberapa judul yang aku temui, membuatku sempat melupakan kalau aku punya teman jalan. Oh, mana dia?. Ternyata dia sudah bergegas menuju rak psikology—semoga ini bukan bagian dari ketidaksukaannya terhadap filsafat. Aku mendekatinya; “ada judul yang kamu sukai?”, dia hanya tersenyum dan “lihat-lihat ajak Kak, trus sudah dapat judul yang dicari?”. “sudah, sudah aku dapat, tapi apa dihargai atau tidak, aku tidak tahu”.” Kan yang terpajang disini semanya dijual, Kak,?. Aku memandangnya dengan tatapan canda, tawa tipis hiasi mataku yang sedikit sipit ini. “akh, aku salah bercanda, belum saatnya”. Batinku.

Aku mengajaknya ke rak sastra. Kali ini bukan pada egoku, tapi diapun suka pada sastra. Satu demi satu ia lucuti dan menanyakan padaku tentang karya yang dia pegang. Aku seperti Mangunwijaya yang dengan sombongnya mencaplok kelayakan sebuah karya. Oh, ini kesempatan untuk lebih dekat, atau kesempatan untuk menunjukan seberapa besar penguasaan literaturku?. Terasa sombong aku dalam jawaban yang ku berikan, tapi syukur, sepanjang yang ia tanyakan, itu yang aku tahu. Bukan sombong, tapi keuntungan dari memiliki banyak informasi.

“Gimana Kak, dengan TOR untuk kegiatan nanti?”. Tanyanya membuatku terkejut, “oh iya, sudah selesai, tinggal dicopy aja”. Maaf teman jalanku, aku berbohong. Belum selesai, tinggal beberapa paragraph.  Dari pertemuan dengan komunitas kemarin, aku ditugasi untuk membuat Tor, sebuah pertemuan yang membuatku lebih bebas menatapnya ketika bicara; dia memimpin rapat. Sekali lagi Maaf perempuanku, disaat pertemuan itu, aku tidak punya perthatian pada apa yang dibicarakan. Hanya satu perhatian utuh; Kedirianmu saat berada dalam kata-kata yang kau ucapkan.

Diluar sana matahari semakin rindu pada peraduaannya, sudah pasti jingga mega mewarnai pegungunan dengan permainya. Ia meminta padaku tuk pulang. Kami bergegas keluar. Huh, satu kesempatan lagi. Dia tak mengendarai roda dua seperti biasanya. “aku antarkan pulang”? sebuah tawaranku dengan irama yang pasti dibenci, seperti menawari dengan hati yang kurang ikhlasi. “aku antar yah”. kuulangi lagi tawaran. Ia mengiykan. Aku memboncenginya, melewati kampus dimana ia sedang menempuh kuliahnya. Dan suara muadzin membuat kami memasuki kampus, menuju mesjid.
“Ayo kak, sudah mau magrib”. Wah, ia mengajakku shalat.
Iya, duluan aja. Jawabku
Ayo, sama-sama, kak.
Sama jawabanku, “iya, duluan aja”.
Ia bergegas masuk, berharap akupun menuju tempat wudhu. Saat itu aku tak mengambil resiko untuk memasuki mesjid. Terserah, mau dibilang malas beribadah. Terserah. Tapi aku punya alasan. Kenapa tidak sahalat, kak”. Tanyanya setelah kembalinya dari mesjid, aku tetap duduk  seperti tukang parkir menunggu empunya sang kendaraan.  Aku tersenyum, menghidupkan mesin kendaraan. Bukan mengantranya ke rumah, tapi ke rumah temannya yang sudah janjian. Sepulanngya aku, selang beberapa menit tiba dirumah, pesan inbox bertuan kembali di ponselku. Naluriku bunar juga. Pesan dari orang yang sudah menemaniku ke gramedia tadi. “kenapa tadi tidak shalat, kak?”. Aku hanya tersenyum membacanya, tapi bingung juga apa yang mesti ku jawab. “aku punya alasan tersendiri untuk tidak sahalat tadi”. “ kalau lebih pribadi alasannya jangan dijawab, kak”. Jawabnya memiliki irama yang lain. Semoga bukan kegeeran lagi. “saya pikir ini bukan soal pribadi atau macamnya, dan alasannya sederhana, aku sedang tidak stabil tuk masuk mesjid”. Nampknya ia bingung dengan jawaban yang memang membingungkan itu membuat balasannya hanya dengan satu tanda; tanda Tanya. Dan suatu insiden menarik katika membelas pesannya kemabli; aku salah replay, yang terkirim bukan ke dianya, tapi ke seorang teman perempuan, yang kebetulan sedang meminta kehadiranku tuk mengjenguknya yang lagi terbaring sakit. Sial!!, salah kirim itu membuat jalan menjadi terhalang. Ia menyangka aku memiliki suatu hubungan dengan orang yang salah kirim pesan tadi.

Tenang, aku punya sejuta cara. Dan kepalaku teringat Freud, si Psikonalis yang sok tahu itu. “apa maksudnya”?. Tanyana setelah aku membalas pesan tentang sikap saat magrib tadi; orang memasuki rumah ibadah itu sebagian karena dorongan seksual, aku membalasnya. Tapi, ada energy semacam kecemburuan yang bersarang dalam pesan itu. “besok jadi kan kita ke rumah Guru SMA yang sudah janjian kemarin?” tanyaku kembali bermaskud mengurangi energy pathology tersebut. Jawabanya membuat aku sedikit tersenyum.

Aku kembali pulang membuka hasil burun ke gramedia, lima buah buka; Biografi Eisntein, Arkeology Pengetahuan, Foucault, Novel Biografis Van Gogh, Esai kritik seni dan Sastra, ST Sunardi dan … … akh saya lupa yang satunya. Ada kebanggaan dan kesenangan tersendiri saat melihat tumpukan buku-buku ku. Suatu kesan imajiner, yang saat memandangnya, membuatku seperti berada dalam perpustakaan biara benediktin yang penuh dengan literratur-literatur tua. Oh, harapanku semakin mendekati kenyataan; punya perpustakaan pribadi di pedalaman yang bisa dikases semua kalangan.

Relativitas Einstein menemukan kebenaran. Membuat hari kini brganti esok bagai laju cahya. Aku mengundang, sekitar emapt orang, teman untuk menemaniku dengan perempuan itu tuk pergi ke rumah guru SMA, yang juga orang tua dari teman akrabku. Saat pukul delapan malam. Menerobos macat kota dengan jalanan yang berbebelok sampailah juga kami. Rumah guru itu lumayan jauh, dipinggiran kota. Sebuah tempat idaman bagi mereka yang butuh ketenangan dari bising knalpot deru kendaraan. Yang memecah telinga. 

Waktu telah menunjukan pukul 11 malam Setelah bertemu dan membiacarakn agenda komunitas dengan guru itu. khendak tuk kembali tertunda oleh hujan yang saat itu cukup deras. Akh, kami bertukar caritas, baik dengan teman maupun dengan guru yang bagiku cukup mengasikan. Darian demi deraian hujan tak jua menunjukan titik perhentian berbanding terbalik dengan arah jarum yang kian berputar. Sudah pukul 12 malam. Aku melihat kearah perempaun itu yang semenjak tadi menunjukan kegelisahan. Iya, kegelisahan karena jam segini masih belum juga berada dirumah.

“Bermalam aja nak, sudah terlalu malam untuk pulang”. Kata guru itu. diapun menelepon ibunya, memohon izin tuk nginap diruamh teman tanpa aku tahu alasan pasti yang diberikan. Dan ibunya merestui. Oh, suatu kesempata emas, atau mungkin seperti kata teman-teman tentang the golden age untuk bertukar cerita dengannya?.

Sepertinya teman-teman ku mengerti apa mauku. Mereka semuanya menuju kamar istrahat. Bukan tuk istrahat, tapi berbagi cerita sambil mengintip nakal apa yang aku ceritakan dengan perempaun itu diruang tamu , yang kebetulan dekat dengan ruang kamar. Ada gitar, aku meraihnya dan memetiak beberapa nada. Dia tersipu mendengar. Mungkin suatu pengetahuan baru baginya kalau aku bisa memainkan musik. Dan dikemudian nanti kita memilik banyak waktu untuk berbicara tentang bagiamana hubungan antara music, fisika, filsafat dan sastra.

Malam semakin larut, hujan tak jua surut. Inilah bahasa alam dalam deraian hujan. Jika didengar perlahan pada gemericik, suara kejujuran hakiki Nampak sunyi dari sentuhan manusia yang kian jauh dari kebenaran, baik dalam tindak pula bertutur. Perasaanku disaat itu seperti gerimis yang ditembusi kilasan sinar tipis matahari. Jika kau berada dalam kesamaan spektrum denganku, maka yang kau saksikan adalah lintasan warni pelangi tengah melengkung indah dalam dadaku. 

Curah hujan hangakatn malam itu membuat Ia banyak bertanya tentang Nietzsche, yang kebetulan saat itu sedang ia pegang salah satu karyanya, Syahwat Keabadian. Sebuah buku kumpulan puisi penuh lautan metaphor. Maaf, aku tak bisa berani dan banyak menjawab seperti apa sang filsuf yang dituduh gila itu. metaphor bukanlah teks mekanis yang gampang diinterpretasi. Sama seperti kedirianmu, ialah metaphor yang menyebabkan aku belum teralu berani mendefisnikan kesunyianmu yang terlampau mistery.

Waktu menjadi dinihari, kami memutusukan istrirahat. Teman-temankupun tak lagi terdengar candaan mereka. Aku bergegas menuju ruang istrirahat mengikuti teman-teman, sementara dia menuju bergabung dengan ibu guru SMA itu. oh, suasana hati menjadi melankoli menciptakan getaran tubuh yang tak seimbang. Terasa hangat hinggapi seluruh tubuh. Kehangatan berupa suatu rasa kekurangan yang masih terganjal sehingga membutuhkan sesuatu pula untuk menetralkan ketidakseimbangan ini. Desah nafas teman-teman dalam lelap tidur, dan aku semakin terlelap dalam kebutuhan eksistensial yang masih tertunda. Mungkah dia merasakan getaran tubuhku dikamar sebelah yang hanya dipisahkan oleh dinding ini?.

Ponsel kembali bergetar. Dengan cepat aku buka. Dan, pesan singkat darinya “selamat tidur kak, terima kasih untuk malam ini”. Awh, aku paling tak suka dengan getaran tubuh seperti ini. Sesuatu yang kuanggap mistery telah begitu dekat, rapat namun masih menyisakkan suatu enigma menyurpai kotak Pandora. Terseliplah ketakutan mendalam untuk terlibat dalam suatu tuntutan harmoni yang mengecamuk dada.  Aku semakin gelisah, degup jantung mengencang, nafas kadang menghembus panjang layaknya diksi Clavino yang tak jua menemukan titik dalam Gli Amory. Apa yang mesti aku balas?. Sampai disini, ketika ketakutan itu melanda ada sedkit keseimbangan yang aku dapatakan tuk membalas “terima kasih juga”. Namun, berselang kemudian, tubuh kembali gemetar memaksa tangan yang lemah ini tuk kembali menghampirinya melalui pesan pula, “malam ini aku begitu sayang padamu”.  Tanpa menunggu lama “semoga bukan saja malam ini kak”. Ohh, tidurku pasti kesima dalam bahagia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar