Minggu, 22 Juni 2014

Bagian Satu (Pada Mulanya adalah Kata)



Tiba-tiba akun jejaring sosial ku menerima permintaan gabung dengan sebuah group.  Hampir satu bulan lamanya saya biarkan, belum mau mengkonfirmasi. Maklum soalnnya banyak sekali komunitas, group pada akunku dengan arah pembahasan yang tak jelas. Ini membuat saya enggan sementara untuk mengkonfirmasi.

Saat itu saya dalam semangatnya membaca The Tao of Physics.  Kegairahan menjadi, dan semakin menjadi dalam lingkaran symbol-simbol mistik kuno dan sains modern. Ah, ini bangsaku, bangsa yang jarang mendiskusikan sains. Sehingga kamu yang bukan jurusan sains akan sulit mencari teman mendiskusikan, paling tidak tentang apa itu waktu.

Hujan, Makassar diguyur hujan. Tidak begitu deras namun membuatku malas untuk pergi kesalahsatu tempat yang kami, aku dan teman-temanku, namakan dengan biara. Iya biara, kami menyebutnya demikian hanya karena nuansanya selalu dengan keheningan meditative penuh Tanya seputar makna kehidupan dan filosofi-filosofi hidup yang kian hari makin jauh dari hati yang paling dekat. Ketika itu aku menuju teras lantai dua, membuka PC untuk berselancar membaca perkembangan dunia, paling tidak Indonesia dalam beirta-berita yang miskin unsur sastrawi.

Seperti biasa aku membuka akun Facebook dan mencoba melihat kembali permintaan perteman, pesan dan permintaan lain. Akh, tanpa banyak Tanya akupun mengkonformasi sebuah Group yang selanjutnya aku tahu kalau itu komunitas penulis muda. “saya bukan penulis” bisik hati pada diri sendiri, “pakai ukuran apa permintaan ini dilayangkan padaku?”.

Setelah bertanya-tanya tentang seorang teman yang mengirim permintaan gabung itu, aku mengambil sedikit keberanian tuk mengikuti perkembangan apa yang sebenaryna dilakukan oleh komunitas ini. Iya keberanian, karena yang saya amati hampir semua naggotanya berasal dari kaum ibuku. Perempuan. Bukannya menakutkan perempuan bagiku, tapi merasa semacam tidak sempurna berada ditengah komunitas yang sangat dekat cirinya dengan Tuhan. Itu kata Ibnu Arabi, aku hanya mengutip. 

Saya mengikuti dan membaca setiap postingan, dan ada sekitar empat hari, melalui pesan inbox, semua anggota di undang menghadiri pertemuan disalah satu tempat, dibawah sebuah jembatan yang memang sering digunakan untuk tempat pertemuan, latihan teatre, membaca puisi dan entah apa lagi.

Rasa tidak sempurna itu semakin jadi ketika pertemuan sudah berjalan. Rasa itu datang bersama seorang yang baru saja duduk, terlambat, yang juga bagian dari anggota group yang sungguh asing bagiku itu. Saat itu aku hanya membuka buku tanpa makna, sebagai alasan tuk hilangkan kekikukanku dihadapan makhluk-makhluk asing ini. Tapi dalam hati naraniku sedang menarik-narik kakiku tuk segera dan harus sedikit lebih berani menatap kearah seseorang yang terlambat datang itu. Tapi, oh maaf nuraniku, aku lagi-lagi tak sempurna menatap kesempurnaan.

Itulah pertemuan pertama, dan tak usah aku ceritakan lagi apa tuntutan nurani setelah pulang dari pertemuan itu. Rahasia. Saat ini aku masih lihai menyembunyikan keinginan hati terdalamku. Kami pun berteman, aku dan perempuan itu, walau masih sebatas akun. Dia cerdas merangkai kesehariannya dalam kata, itu yang aku lihat saat membaca tulisan-tulisannya, bloog maupun catatan di akun FB. Tapi kurang unsure meditatif didalamnya, kurang penghatan filosofis dalam kata-katanya. Namun, hum! Aku mencoba terus membaca sebagi langkah memahami dan mengenalnya dalam kata-katanya sendiri. He.he… tidak sia-sia aku mempelajari linguistic, semiotika dan psikoanalisa, tawaku sedikit sombong—dalam hati.

Intesionalitasku semakin gairah membaca tulisan-tulisannya, dan pengalaman itu menciptakan sebentuk kenakalan interpretasi, dan, aku mendapat semacam energy dalam dirinya, yang melalui tulisannya, bahwa kata-kataya menunjukan padaku bahwa dia, perempuan itu merupakan sosok pekerja keras yang bukan saja dalam tulisan, juga dalam perbuatan. Oh, apa ini interpretasi kepentingan partikular?. Tidak ini lahir dari represntasi universal dimana kata adalah bagian dari firman yang harus aku imani. Dan aku semakin menjadi dalam kata-kata. Lihat, nuraniku semakin lantang menyarakan aspirasinya.
Setalah pertemuan pertama itu, aksen dan kesan menjadi sebentuk istana kayangan dalam pengalaman. Dan, pertemuan kedua terjadi, bukan pada agenda komuntas Penulis itu, tapi lebih pada gairah sastrawi, dan itu terjadi begitu cepat, pertemuan itu, hanya beberapa menit. Ia, perempaun itu meminjam padaku sebuah novel klasik prancis, karangan Gustave Flaubert. Oh, saat ini perhatianku terbagi. Antara bukuku dan perempuan itu. Maklum pengalaman buku yang tak kembali dari pinjaman membuat aku sedikit pelit meminjamkan buku. Tapi, aku percaya bukunya akan kembali bersama perempuan itu.

Kembali?, hanya buku aja kalee, perempuan itu bukan mulikmu kan?, Jawab rasa pesimis yang lama tinggal dalam dada. Akupun mengelus dada, “sabar, jangan panik hanya salah ucap”. Apa? Salah ucap? Katanya kau sudah lama mempelajari  psikoanalisa, ternyata tak sia-sia aku membaca dadamu. Jawab si pesimis itu dengan nada kemenangan.  Oh, aku jadi ingat gimana si Yahudi dalam pengamatan sang Nabi. Ah, andai si pesimis itu tak cepat memprotes, dia akan lebih mengerti, sok tau rupanya.

Setelah beranjak dari pertemuan itu, yang kedua, aku kembali menuju biara dan membuka kembali Chapra, yang mengulas tentang kearifan konu yang memiliki hubungan dengan sains-sains modern. Sampailah aku pada pembahasan geometri dan grafitasi. Hmm, aku kurang percaya pada Euclid dengan titik pusat geometris yang menjadi padangan dunia Gereja. Sementara gravitasi, oh, aku butuh buah apel yang dianalogikan Newton. Namun, Einstein hadir melabrak Euclid, dan kelengkuangan ruang waktu menarikku pada beban gravitum sastrawi membuatku sedikit lancang bahwa Einstein hanya bicara waktu-ruang particular. Butuh sintesa tenang waktu universal, karena dan memang aku sedang membutuhkannya. Tapi, sampai disini, dengan sedikit kesadaran ala sufistik, bahwa Einstein adalah anak zaman, dan aku terperangkap dalam tebing curam, tinggi, dalam, dan disana gravitasi berlaku penuh padaku. Aku jatuh dalam geometri tebing curam yang ada pada lesung pipit perempuan itu. Oh, ketakutanku terbukti benar, dan aku butuh kesempurnaan itu.

bersambung....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar