Tiba-tiba akun jejaring sosial ku
menerima permintaan gabung dengan sebuah group.
Hampir satu bulan lamanya saya biarkan, belum mau mengkonfirmasi. Maklum
soalnnya banyak sekali komunitas, group pada akunku dengan arah pembahasan yang
tak jelas. Ini membuat saya enggan sementara untuk mengkonfirmasi.
Saat itu saya dalam semangatnya membaca The Tao of
Physics. Kegairahan menjadi, dan semakin
menjadi dalam lingkaran symbol-simbol mistik kuno dan sains modern. Ah, ini
bangsaku, bangsa yang jarang mendiskusikan sains. Sehingga kamu yang bukan
jurusan sains akan sulit mencari teman mendiskusikan, paling tidak tentang apa
itu waktu.
Hujan, Makassar diguyur hujan. Tidak begitu deras namun
membuatku malas untuk pergi kesalahsatu tempat yang kami, aku dan
teman-temanku, namakan dengan biara. Iya biara, kami menyebutnya demikian hanya
karena nuansanya selalu dengan keheningan meditative penuh Tanya seputar makna
kehidupan dan filosofi-filosofi hidup yang kian hari makin jauh dari hati yang
paling dekat. Ketika itu aku menuju teras lantai dua, membuka PC untuk
berselancar membaca perkembangan dunia, paling tidak Indonesia dalam
beirta-berita yang miskin unsur sastrawi.
Seperti biasa aku membuka akun Facebook dan mencoba melihat
kembali permintaan perteman, pesan dan permintaan lain. Akh, tanpa banyak Tanya
akupun mengkonformasi sebuah Group yang selanjutnya aku tahu kalau itu
komunitas penulis muda. “saya bukan penulis” bisik hati pada diri sendiri, “pakai
ukuran apa permintaan ini dilayangkan padaku?”.
Setelah bertanya-tanya tentang seorang teman yang mengirim
permintaan gabung itu, aku mengambil sedikit keberanian tuk mengikuti
perkembangan apa yang sebenaryna dilakukan oleh komunitas ini. Iya keberanian,
karena yang saya amati hampir semua naggotanya berasal dari kaum ibuku. Perempuan.
Bukannya menakutkan perempuan bagiku, tapi merasa semacam tidak sempurna berada
ditengah komunitas yang sangat dekat cirinya dengan Tuhan. Itu kata Ibnu Arabi,
aku hanya mengutip.
Saya mengikuti dan membaca setiap postingan, dan ada sekitar
empat hari, melalui pesan inbox, semua anggota di undang menghadiri pertemuan
disalah satu tempat, dibawah sebuah jembatan yang memang sering digunakan untuk
tempat pertemuan, latihan teatre, membaca puisi dan entah apa lagi.
Rasa tidak sempurna itu semakin jadi ketika pertemuan sudah
berjalan. Rasa itu datang bersama seorang yang baru saja duduk, terlambat, yang
juga bagian dari anggota group yang sungguh asing bagiku itu. Saat itu aku hanya
membuka buku tanpa makna, sebagai alasan tuk hilangkan kekikukanku dihadapan
makhluk-makhluk asing ini. Tapi dalam hati naraniku sedang menarik-narik kakiku
tuk segera dan harus sedikit lebih berani menatap kearah seseorang yang
terlambat datang itu. Tapi, oh maaf nuraniku, aku lagi-lagi tak sempurna
menatap kesempurnaan.
Itulah pertemuan pertama, dan tak usah aku ceritakan lagi
apa tuntutan nurani setelah pulang dari pertemuan itu. Rahasia. Saat ini aku
masih lihai menyembunyikan keinginan hati terdalamku. Kami pun berteman, aku
dan perempuan itu, walau masih sebatas akun. Dia cerdas merangkai kesehariannya
dalam kata, itu yang aku lihat saat membaca tulisan-tulisannya, bloog maupun
catatan di akun FB. Tapi kurang unsure meditatif didalamnya, kurang penghatan
filosofis dalam kata-katanya. Namun, hum! Aku mencoba terus membaca sebagi
langkah memahami dan mengenalnya dalam kata-katanya sendiri. He.he… tidak sia-sia
aku mempelajari linguistic, semiotika dan psikoanalisa, tawaku sedikit sombong—dalam
hati.
Intesionalitasku semakin gairah membaca tulisan-tulisannya,
dan pengalaman itu menciptakan sebentuk kenakalan interpretasi, dan, aku
mendapat semacam energy dalam dirinya, yang melalui tulisannya, bahwa
kata-kataya menunjukan padaku bahwa dia, perempuan itu merupakan sosok pekerja
keras yang bukan saja dalam tulisan, juga dalam perbuatan. Oh, apa ini
interpretasi kepentingan partikular?. Tidak ini lahir dari represntasi
universal dimana kata adalah bagian dari firman yang harus aku imani. Dan aku
semakin menjadi dalam kata-kata. Lihat, nuraniku semakin lantang menyarakan
aspirasinya.
Setalah pertemuan pertama itu, aksen dan kesan menjadi sebentuk
istana kayangan dalam pengalaman. Dan, pertemuan kedua terjadi, bukan pada
agenda komuntas Penulis itu, tapi lebih pada gairah sastrawi, dan itu terjadi
begitu cepat, pertemuan itu, hanya beberapa menit. Ia, perempaun itu meminjam
padaku sebuah novel klasik prancis, karangan Gustave Flaubert. Oh, saat ini
perhatianku terbagi. Antara bukuku dan perempuan itu. Maklum pengalaman buku
yang tak kembali dari pinjaman membuat aku sedikit pelit meminjamkan buku. Tapi,
aku percaya bukunya akan kembali bersama perempuan itu.
Kembali?, hanya buku aja kalee, perempuan itu bukan mulikmu
kan?, Jawab rasa pesimis yang lama tinggal dalam dada. Akupun mengelus dada, “sabar,
jangan panik hanya salah ucap”. Apa? Salah ucap? Katanya kau sudah lama
mempelajari psikoanalisa, ternyata tak
sia-sia aku membaca dadamu. Jawab si pesimis itu dengan nada kemenangan. Oh, aku jadi ingat gimana si Yahudi dalam
pengamatan sang Nabi. Ah, andai si pesimis itu tak cepat memprotes, dia akan
lebih mengerti, sok tau rupanya.
Setelah beranjak dari pertemuan itu, yang kedua, aku kembali
menuju biara dan membuka kembali Chapra, yang mengulas tentang kearifan konu
yang memiliki hubungan dengan sains-sains modern. Sampailah aku pada pembahasan
geometri dan grafitasi. Hmm, aku kurang percaya pada Euclid dengan titik pusat
geometris yang menjadi padangan dunia Gereja. Sementara gravitasi, oh, aku
butuh buah apel yang dianalogikan Newton. Namun, Einstein hadir melabrak
Euclid, dan kelengkuangan ruang waktu menarikku pada beban gravitum sastrawi
membuatku sedikit lancang bahwa Einstein hanya bicara waktu-ruang particular. Butuh
sintesa tenang waktu universal, karena dan memang aku sedang membutuhkannya. Tapi,
sampai disini, dengan sedikit kesadaran ala sufistik, bahwa Einstein adalah
anak zaman, dan aku terperangkap dalam tebing curam, tinggi, dalam, dan disana
gravitasi berlaku penuh padaku. Aku jatuh dalam geometri tebing curam yang ada
pada lesung pipit perempuan itu. Oh, ketakutanku terbukti benar, dan aku butuh
kesempurnaan itu.
bersambung....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar