Malam
lirihkan sepi dan sunyi dalam balutan harmonie blok-blok sensasi
Kepulan asap
tembakau menari indah dalam alunan dentingan sang pianis
beberpa
pasang sepatu saling bertindisan di pojok kamar
tampak seperti anak kucing diderah
kedinginan
memrelukan pelukan hangat sang kasih
Buku-buku
terhambur disetiap sisi meja dan kasur
bantal
terlihat lesuh dibebani jutaan resah
semuanya
seperti berbicara dalam bahasa masing-masing
berdiri
disetiap spectrum keangkuhan ego
tapi, akibat
kemerduan hening dalam selaput pendengarku
semuanya
berubah dan berdiri dalam tataran lanskap melodis
menyempurnakan
kegelisahan yang mustahil terurai satus demi Satu
Seperti
pemotret yang mematikan naturalitas menjadi selembar pandangan
Aku merasa
seperti terlibat menetapkan masokhis menjadi seni bunuh diri
Mengukur
kata-kata tuk matikan raga dalam selembar warni prasasti
Penggalan
udara tipis sesekali memeluk selaput tipisku
sejenak
berubah menjadi bongkahan cacian terhadap apapun
Membentuk imaji
searah dalam lajur para kubisme
menyusun
hasrat menjadi lukisan–lukisan berbentuk belati
Aku seperti
terseret dalam ketiadaan sensasi
memandang
segalanya menjadi kesuraman dalam segala masa
lalu, dalam
keterpaksaan kodrati manusiawi
mengukirku
dalam sejumput keindahan senyum kasih yang liarkan hati
Personalitas
seperti melayang dalam geometric relativitas
Universalitas
yang meridukan keindahan totalitas
Partikularitas
yang terbebani gravitasi
Tatapanku
masih terbawa akan kemerduan tiranik
Mengukur cinta
dalam timbangan para kapitalis
Tuhan pun kupaksa
hadir dalam setiap simulasi belaka
Aku
benar-benar seperti Keledai bagi diri sendiri
Kemuidian
mati dalam balutan apa yang menurut mereka ialah kegilaan
Ooh…Setiap
nafasku mengusik puisi dalam meditasi
Menjadi tatapan surgawi akan kematian yang nian merindu..
Tumpukan
buku-buku dihadapanku seolah mati berkata-kata
Seribu
maknawi menyasak dada tanpa bahasa yang mesti terekspansi
Segalanya bisu
..
Entah seperti
apakah aku adalah pertanyaan sulit..
Tapi biarlah
ratapan ini menjadi kebencian kronis
Agar hidup
selalu dina di mata hidup yang kian bodoh, membodohi
apa aku
sedang marah ?
kepada
siapa ?
tapi aku tak
punya alasan tuk tidak mencaci kehidupan ini
bukankah
inilah kewajaran kodrati?
tidakah
kebahagiaan hanya milik orang-orang sok suci?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar