Kamis, 02 Februari 2012

Semalam Bersama “Dewa Hermes” ( Short story about Hermeneutic; special to my friends el MALCOM)

Oleh: Arie Samal

Langit menjerit bersama suara-suara jangkrik dalam malam yang kusam. Angin berhembus menerpa dedauan dan ranting-ranting yang setengah kering kemudian menghasilkan bunyi—yang jika didengar perlahan—seperti Instrumen Kitaro (song for Peace) yang didominasi oleh gesekan viola.  Tiba-tiba, terdengar seperti nyalakan anjing dari sebuah lorong, dari kejauhan, suara itu terdengar samar, namun, ia bagaikan teriakan para pendaki yang tersesat di tebing curam. Tapi, jika kau semakin mendekat, suara itu berubah menjadi irama seorang pujangga—dan itulah sebenarnya—yang sementara berpuisi dengan ribuan intonasi indah pada kekasih hatinya.

Aku mendekat, dan, semakin merapat, menyaksikan pertunjukan romatis antara sepasang anak muda yang men-dunia bersama malam tanpa bintang, tanpa bulan, selain diterangi oleh pendaran cahaya lilin dari rumah terdekat yang berhasil menembus fentilasi jendela, dan diterangi cahaya dari jiwa mereka sendiri. Lelaki itu tak menghiraukan aku yang tengah berdiri tepat dihadapannya, sementara yang perempuan membelakangiku, mungkin karena kerinduan konstan akan sang kasih, “batinku”, ia seolah tenggelam dalam lirik penuh roman akan puisinya. Namun, dan itulah aku, tak jua memahami arti dari puisi yang kudengar, aku hanya bisa berdiam, kemudian memaksakan diri untuk terlibat dalam suatu proses penilaian yang harus kuberikan pada malam itu. “Astaga..., aku tak mengerti sedikitpun apa yang kudengar”, yang saya mengerti hanyalah ketidaktahuan akan bahasa-bahasa puitis yang mungkin syarat makna.

Seketika, dan, tanpa sadar, keindahan puitis itu seolah membuatku jadi korban ilusi, aku seperti menyaksikan sebuah pendulum raksasa yang muncul diantara siluet-siluet malam, dengan tali yang melekat pada titik geometric, yang berputar putar dihadapanku, dan dengan mudahnya membuatku terhipnotis oleh permainan keindahan-bahasa tersebut. “Oh malamku,, aku benar-benar terbawa oleh indahnya bahasa malam ini”. Pintaku dengan suara yang agak keras, dan nampaknya desah itu terdengar oleh mereka yang sedang mendunia bersama bahasa puitis dalam-dalam.

“Andaikan Hermes yang mendengar doa mu itu pasti ia kan turun menjelaskan padamu apa arti dari puisi ini?”. Sela perempuan itu memecah kebingunganku.
Maaf, aku mengganggu”, 
“Oh tidak’’, lanjut permpuan itu,jangan salah kira, ini adalah kebiasaan kami yang berpuisi kepada sesama teman, kau pasti berfikir lain kan, kalu kami adalah sepasang kekasih?, bukan brada, Kemarilah dan duduklah bersama kami.
Dengan sedikit canggung, aku pun memaksasakan diri tuk bergabung, sok ingin tahu, aku bertanya, “siapa itu hermes, ups, sebelum dijawab, kenalkan namaku, Himda Alie Syariati, biasa dipanggil Himda
Chris Nur Afctah, tapi kau bisa memanggilku, Afctah.”
Edger Hirch , biasa dipanggil Hirch, tapi, terserah anda mau memanggil edger atau Hirch juga boleh asalkan bisa menciptakan suasana keakraban bagi mu".     

Sebuah perkenalan singakat, yang nantinya akan dilanjutkan dengan diskusi panjang tentang siapkah Hermes itu, dan lebih penting lagi, tentang gimana caranya saya bisa memahami segala sesuatu, termasuk juga teks didalamnya.

Terang saja, seumur hidup aku baru pernah melihat keakraban romantis seperti malam ini. Ya, aku sering malihat hal yang sama, tapi yang terjadi bukan sesama teman, melainkan sering terjadi pada sepasang kekasih yang dihujani asmara, sehingga agak aneh aja melihat hal semacam ini. Aku harus merubah pandangan ku tentang berpuisi di malam ini, “Batinku”.

Setelah dipersilahkan duduk dan sedikit basa-basi, Edger barkata, “tradisi sastra di Negara ini benar-benar lumpuh, banyak kampus sering kerepotan dengan Fakultas sastranya akibat kurang di gemari calon mahasiswa, padahal, Sastra yang merupakan bidang  termarginalkan di Negeri ini justru menjadi hal yang luar biasa diminati, seperti Prancis, Jerman, Iran dan beberapa negara maju lainnya. Coba liat Negara ini, Budaya Kesusasteraan benar-benar mati, apalagi budaya Membaca…!”, sambil memandang dengan air muka kegelisahan, Edger Melanjutkan, “Baca, bagi sebagian besar Negeri telah berubah menjadi Hobi Belaka, jadi kalau bukan  hobi, ya, pasti tidak membaca. Apakah kita semua tuli, dan buta, bahwa BACALAH, seperti tertera dalam surat al Iqra, dan PADA MULANYA ADALAH KATA, seperti dalam injil, yang juga dijadikan kalimat pembuka bagi Umberto Eco dalam Novelnya The Name Of The Rose, mesti dipahami sebagai Seruan dari Tuhan untuk kita harus rajin membaca, jadi membaca adalah sebuh KEWAJIBAN bukan hobi semata”.    

“Baiklah, celah Afctah memotong keheningan sejenak setelah mendengar sebuah penjelasan yang menurut saya cukup baik dari Hirch, “Hermes adalah salah satu Dewa dari mitology Yunani kuno, apakah anda pernah membaca novelnya, Mary Pope Osborne?”
Nama pengarang novel yang masih asing bagi bagi telingaku, aku hanya diam sejenak sembari menunjukan air muka yang menandakan ketidaktahuan, Adger pun melanjutkan “itu adalah sebuah novel Mitology yang menceitrakan tentanng kisah seorang pengrajin kayu yang bernama Odesius, yang, sekaligus juga menjadi  raja di pulau Ithaca Yunani Kuno” .
“Apa judulnya?”
“Kisah-kisah Odesei, Negeri orang Mati”, terang Afctah.
“jadi, apa hubungannya dengan hermes?”
“Di dalam novel tersebut, lanjut Afctah,  Hermes adalah anak dari dewa Zeus, raja semua dewa, ada banyak dewa dewi dengan tugas mereka masing-masing, dan Hermes dalam hal ini adalah Dewa pembawa pesan bagi manusia,”.

“pesan seperti apa?” Tanya ku. 
“Dahlu kala, sebagaimana cerita dalam mitology yunani kuno, jika ada hal  yang diperbincangkan diantara beberapa orang, atau ada hal-hal yang diperdebatkan antar kelempok dan, atau bingung dalam mamahami sesuatu, maka Dewa Hermes biasanya hadir untuk menjelaskan sekaligus memberikan solusi pada masalah tersebut, jadi, Hermes diasosiasikan dengan fungsi trnasmisi apa yang ada dibalik pemahaman manusia kedalam bentuk yang ditangkap oleh intelgensi Manusia”.

“Dalam agama ku, ada juga hal-hal demikian, bisanaya yang sering kami dengar adalah Nabi Idris yang hampir mirip dengan cerita anda tadi, bagamana menurut anda?”

Iya, memang saya pernah dengar hal seperti itu”, Edger melanjutkan, ”. dan ada juga nama yang sama dengan Hermes, dalam Novelnya Justin G. Dunia Sophie, tapi, Hermes disini adalah seekor anjing, kalau tidak salah, yang sering membawa pesan dalam bentuk surat buat Shopie. Apakah anda pernah baca novelnya?
“Ya, saya ingat,.. saya pernah baca’’. Jawab ku 
 “Tapi ini hanya mitos teman, kilah Edger, “yang nantinya nama Hermes ini akan berhubungan dengan apa yang disebut dengan Hermeneutika”.
“Hermeneutika? Apa itu,? sepertinya pernah saya dengar”, tanyaku dengan setengah menjongakan kepala ke langit tak berbintang, sebuah permainan bahasa tubuh yang menandakan aktifitas bawah sadar tuk mengingat sesuatu kembali. 

Malam kian pekat, sementara gerimis yang digiring oleh udara tipis mulai tampak dalam seberkas sinar lampu badai disebuah beranda dekat kami bertiga. Sebuah penanda yang mengharuskan kami untuk segera mengakhiri pembicaraan itu. Tapi ada hasrat yang mengalir keseluruh jejaring syarafku, yang menghasilkan rasa ingin tahu lebih lanjut tentang apa yang barus saja dibicarakan. Akupun menawarkan tempat, warung kopi disudut jalan, untuk melanjutkan pembicaraan kami tadi, kami bersepakat. Tanpa menuggu lama, kamipun beranjak kesana.

Suasana warung kopi agak sepi, terlihat hanya beberapa orang, maklum, kehidupan modern semakin cepat merubah pandangan manusia pada hal-hal yang serba mentereng, hingga tempat-tempat tradisonal kadang menjadi pandangan estetis semata tanpa mecemplungkan diri terlibat dalam “dunia” yang ditawarkannya. Sampai disini saya jadi teringat akan kata-katanya Sarte dalam Lets Mots, bahwa, “ketertinggalan dunia modern karena terlalu cepat menerima perubahan”.

Di jalan, didepan warung, terlihat agak sunyi dari pengendara. Jalanan yang berlubang membiarkan air tergenag didalamnya, dan jika dibilas roda kendaraan, desirannya terdengar seperti hentakan langkah militer yang tengah berbaris. Gerimis bergemericik, sementara dibagain belakang, sebuah danau buatan membentang, yang luasnya sekitar 200 meter persegi, ditepi danau, puluhan pohon mangga berdiri tegak (kami bertiga mengambil tempat kearah danau), dibawahnya terdapat beberpa tempat duduk yang sengaja dibuat untuk warga sekitar bersantai. Sebuah kondisi yang menawarkan keheningan sebagai instrument untuk diskusi kami.

Setelah kopi yang kami pesan sudah tersaji, Aftah terlihat memandang kearah danau dan berkata “pemandangan yang begitu puitis, jadi marilah kita berhermeneutik..”, mendengar itu, aku hanya sedikit melebarkan senyum mersepon tawa kecil dari kedua rekan ku itu.
“Hubungan seperti apa antara hermeneutik dan piusi?” Tanyaku yang memecah kebuntuanku
“Ok. Melanjutkan yang tadi” sambil membenarkan letak duduknya, Edger berkata “Hermeneutika sebagaimana yg kita bicarakan tadi, berasal dari istilah yunani, yakni dari kata kerja Hermeneuein yang berarti menafsirkan dan kata benda Hermeneia, interprertasi, yang mengacu pada dewa Hermes itu.
Apakah ia hanya menafsirkan teks semata?”
Oh bukan, dalam Webster third New International Dictionary, hermeneutika didefinisikan sebagai sebagai study tentang prinsip metodologis interpetasi dan eksplanasi; khususnya studi tentang prinsip umum interpretasi bible ;Nah, tulisan,  hadir belakangan, budaya lisan yang paling dahulu, sehingga tugas untuk untuk menafsir bukan hanya teks, tapi juga dalam bentuk lisan.  dari sinilah, menurut Palmer, ia menjadi wawasan pada karakter dasar interpretasi dalam teology tadi, hukum dan sastra, dan dalam konteks sekarang ia menjadi keywords hermeneutika modern".

Sampai disini, aku sudah bisa sedikit memahami tentang hermeneutika yang asal katanya berasal dari dewa hermes. Namun ada semacam yang tersisa, atau belum juga puas didalamnya, kemudian bertanya, “semenjak kapan term hermeneutika dipakai sebagai sebuah kaidah penafsiran?. Edger manjawab “mungkin, Aftah  bisa jelaskan?, saya lupa kapan itu. Wanita yang sedang mendunia bersama ponsel itu—apakah sedang mengetik SMS (short massage service) atau membaca catatan—sedikit mangarahkan pandangan kearah danau dan permainan bola matanya menandakan kalau ia sementara mengingat sesuatu dan menjawab “Hermeneutika dalah kata yang didengar, sebagaimana dibilang Edger tadi, dalam bidang teologi, filsafat dan sastra; dan ia baru muncul sebagai sebauh gerakan dominan dalam teology protestan Eropa, yang menyatakan bahwa :hermeneutika sebagai titik fokus isu-isu teologis.
Namun apa yang kami bicarakan tadi, nampaknya disimak oleh pria dan teman perempuannya—entah sepasang kekasih atau bukan—yang duduk bersebelahan dengan kami. Mungkun tema ini menarik bagi mereka sehingga tanpa menunggu lama, merekapun mendekat dan meminta bergabung untuk berdiskusi bersama. Setelah saling mengenalkan diri, wajar saja ketika mereka tertarik karena mereka berdua mengambil jurusan Sastra. Eko dan Shiva, nama keduanya yang baru bergabung.

“Kami berdua, dari tadi menyimak apa yang kalian diskusikan, tama menarik yang kurang diminati”. Eko mengakui. Setelah terlibat dalam perbinacanagn basa-basi sejenak, kami pun melanjutkan diskusinya, yang diawali dengan sentuhan pertama Shiva, berupa pertanyaan “apakah hermeneutika hanya untuk menafsirkan teks semata?
Secara garis besarnya sih begitu”, jawab Aftah, yang sementara menghirup hangat minumannya, samabil berkata “namun mediasi membawa pesan agar dipahami—dari dewa hermes pada manusia—terkandung dalam tiga bentuk makna dasar (hermeneuein dan Hermeneia) yakni, hermeneutika sebagai To Say, to Explain dan to Translite”. Sambil melihat kami yang memandang kebingungan, Aftah menambahkan “disini. Proses Hermes—mitos dewa yang sebagai cikal bakal kata hermeneutika tadi—berfungsi sebagai ketiga istilah itu yang bisa mengarah pada pemahaman”. Eko sedikit memandang pasrah kearah Aftah, entah karana ia masih butuh penjelasan lebih lanjut, kagum-kah pada keceradasan wanita itu, atau memang kagum pada lesung pipinya Aftah yang terlihat indah saat ia berintonasi memberikan penjelasan.

“Hermeneutika seperti dalam Webster, yang dijelaskan edger tadi, kemungkinan besar tertuju pada Interpretsi bible semata, kemudian saat ini hampir sudah menjadi kaidah bagi semua displin ilmu. Jadi seperti apa kronologinya hingga tidak saja pada penafsiran Bible?” Tanya Shiva.
Edger menjawab “Memang pemahaman awal dari hermeneutika merujuk pada prinsp menginterpretasi bible, seperti yang diinformasikan dari Buku, Hermeneutika, Prinsp Baru Mengenai Interpretasi (karangan Richard E. Palmer) bahwa terdapat justifikasi historis mengenai definisi tersebut, dimana kebutuhan yang muncul dalam buku-buku yang menginformasikan kaidah eksegesis kitab suci, seperti di Inggris selanjutnya di Amerika, penggunaan kata hermeneutika menggikuti arah kecendurungan umum yakni penafsiran bible, yang dicatatt pertama kali dalam Oxford English Dictionary tahun 1773”, kalau saya tidak slah ingat, kebutuhan menganenai kaidah itu muncul ketika reformasi terjadi, dimana lingkungan Protestan merasa sangat butuh terhadap pedoman interpretasi untuk membantu para pendeta dalam menafsirkan kitab bible; jeda waktu antara 1720 dan 1820 merupakan masa tanpa kemunculan buku-buku pedoman hermeneutika baru guna mengarahkan para pendeta protestan. Nah, disini saya jadi teringat apa yang dikatakan Schleiermacher, bahwa jika  bahasa  dalam bible sama saja dengan bahasa dalam  buku selain itu, misalnya sastra, filsafat, hukum maka, kaidah penafsiran tersebut bisa digunkan terhadap apa yang saya sebutkan barusan.

Sekarang waktu sudah menunjukan pukul 22:25 WIT, sebuah waktu yang ideal bagi “anak mami” untuk sudah harus di rumah; jika tidak ada kegiatan. Langit masih saja meneteskan butiran airnya diatas jalanan, jika kau melihat, butiran itu kan jatuh kemudian pecah tercurai diatas aspal kemudain serpihannya menjadi ratusan tetesan kecil, sehingga jika disinari oleh lampu kendaraan yang melintas, ia terlihat seperti butiran Kristal  yang tercampak ribuan kemilau warni. Walapun tidak terlalu lebat, kondisi ini nampaknya menjadi alasan bagi kita untuk tetap melanjutkan diskusi, sembari menunggu hujan redah. Selanjutya, kami harus rela pulang dengan basah kuyup karena sampai pagi, hujan tidak juga redah, malah semakin lebat.
Maaf, bisa diulangi tokoh yang baru anda sebutkan?” tanyaku samabil sambil meletakan selembar kertas diatas meja untuk menulisnya.     
“Yang mana”?
“Itu yang barusan tadi”
“Schleiermacher?”
“Iya, siapakah dia dan apakah ia punya alasan untuk itu?”

Nampaknya diskusi malam itu agak didominasi oleh si Edger, (dominasi adalah istilah yang kurang saya sukai dalam berdiskusi atau kondisi sosial keseluruhan, tapi istilah ini saya pakai  bermaksud  untuk mengatakan kalau si Edger lebih banyak memberikan penjelasan,  jadi kata dominasi dipahami pada yang terakhir) semantra si Afctah, yang natinya saya ketahui sama cerdasnya, lebih banyak berkonsentrasi pada HP yang ia pegang—mungkin sementra berkomunikasi denga keluarganya karena belum juga berada di rumah, maklum sudah agak larut—dan seskali dia membuka sebuah buku yang baru ia beli, Madame Boevary, yang jika kau membacanya akan menimbulkan kebencian pada Emma, isteri dari tokoh cerita itu, novel klasik Prancis yang dikarang Gustave Flaubert, konon novel tersebut sebagai cikal-bakal feminisme.

“Dia adalah seorang berkebangsaan jerman” Edger malanjutkan “yang mengatakan bahwa Hermeneutika—seperti dijelaskan sebelumnya—merupakan sebuah displin umum hanya sebagai pluralitas dari hermeneutika tertentu, Bible.  Nah , pernyataan ini dia jadikan sebagai kuliah pembuka Hermeneutikanya sekitar tahu 1819, untuk meletakan bidang ini sebagai seni pemahaman, tidak hanya bible saja. Menurutnya, Teks sesungguhnya ada dalam bahasa, karenanya gramatika digunakan untuk memperoleh makna sebuah kalimat. Hermeneutika seperti inilah yang dapat digunakan sebagai basis dan anti semua hermeneutika khusus”

Ketika sedang mencatat hal-hal peting yang dijelaskan edeger tadi, sesekali aku menangkap pandangan mata antara Afctah dan Edger yang memecah konsentrasiku atas apa yang pertama ia ucapkan ketika bertemu tadi, dan apa yang sementara aku catat. Hal yang sama pun terjadi pada Eko dan Shiva, jika kau lihat, gelombang pandangan mata mereka mirip dengan Instrumen-nya Bethooven, fur Elis, yang menghasilkan permainan linguistik bernada kerinduan. Mungkin aku sedang menjadi instrument bagi hubungan mereka, dimana diskusi malam ini mereka jadikan sebagai momen untuk bersama hingga larut malam. Tapi itu masih sebatas dugaan.

“Tapi, ada juga juga beberapa tokoh hermeneutika sebelum Schleiermacher, yang gagasan-gagasan mereka memberikan sumbangsih padanya kelak”. Afctah melanjtukan, yang bermaksud mengingatkan Edger.

“Iya benar, saya lupa”.

“Yang mana mereka?” Tanya Eko dengan nada tak sabar untuk cepat ia ketahui

“Friedrich Ast (1778-1841 dan Friecrich Agust wolf  (1759-1824)”, yang pertama dikenal sebagai tokoh filology, seperti beberpa karya yang pernah ia buat; Grundlinien derGramatik, Hermeneutik und Krikt, atau Basic Elements of Grammar, Hermeneutics and Critisism dan Grundriss der Philologie atau Outlines of philology. Bagi Ast, tujuan study filologi adalah untuk menagkap sprit antiquitas,

Antiquitas? Apa maksudnya”, Tanya Shiva mendahului ku yang ingin bertanya hal serupa

Tapi djiawab oleh Aftah yang sementara menyispkan berupa kertas di buku yang ia pegang sebagai batas baca dan menjawab “ antiquitas adalah berupa jaman atau barang-banag purbakala” sampai disini edger terlihat berdiri menuju ke tempat pemilik warung, bertanya dimana toilet, kemudian arah mata Afctah sekilas mengikuti langkah lelaki itu kemudian berbalik dan menjelaskan “yang diperlukan dalam philology adalah menagkap sprit jaman itu. Makanya, dalam hal ini, Ast, menawrkan tiga criteria dalam tugas Heremeneutika melalui pengembangan makna internal  dan hubungan bagain-bagain dalam sebagai suatau keseluruhan. Mislanya, ketika anda membaca sebuah buku, kemudian bermasud untuk menangkap apa yang dingnkan penulis, maka anda harus tahu susunan Grammatis seperti  apa, dan apa yang dirasakan ketika seorang pengarang membuat karangannya. Disini tiga atwaran Ast yang saya katakana yaitu, Historis, Garammatis dan Geistige. Yang pertama, berupa pemahaman yang terkait dengan isi sebuah karya, baik itu berupa karya artistic, saintis atau umum, kedua, pemahaman yang terkait dengan bahasa, sementara yang ketiga, adalah pemahaman karya yang terkait dengan pemandangan utuh pengarang dan pandanagn utuh geist (masa) itu.

Tiba-tiba, ponselnya Aftah yang semantara ia pegang berdering—entah  merk dan tipe apa, aku tak tahu, mungkin terlalu banyak merek dan model HP yang membanjiri pasar domestic hingga membuatku tak tau jenis ponsel seperti itu— tapi kali ini ia agak bijaksana, tidak menghiruakan panggilan atau mungkin sms dengan seketika, dan melanjutkan penjelasannya. Setelah menekan tombol reject ponselnya ia berkata;

"konsepnya Ast, hampir sama dengan Friedrich Wolf, dimana—menurut Wolf—dia hanya berbeda pada yang ketiga, yakni Geist. Jadi kalo Ast menawarkan konsep Historis, Gramatis dan Geistge, maka, Wolf menawarkan Interpretatio Grammatica, Historica dan Philosopica. Disini yang pertama berkaitan dengan semua hal bahasa yang dapat membawa kita pada tujuan interpretasi, yang kedua, untuk memperhatikan tidak hanya dengan fakta-fakta historis, tetapi juga dengan pengetahuan faktual dari kehidupan pengarang agar dapat mendatangkan pengetahun apa yang pengarang ketahui. Nah pada yang ketiga dia gunakan sebagai uji logika dan control terhadap dua level yang lain, Garammatis dan historis.

“Uji logika seperti apa?”, Shiva bertanya

“Ya, bagamana mencari relasi atau mengubungkan fakta dari kaidah bahasa dalam momen waktu tertentu, nah mereka berdua inilah yang kemudian mempengaruhi Schleiermacher dalam mengembangkan hermeneutika sebagai seni untuk memahami”.

Sebuah penjelasan yang cukup panjang dari Afctah, Eko yang di sampingku terlihat serius mendengar sekaligus menatap wanita yang baru saja mejelaskan, entah mungkin karena ia simak betulan topik yang dibicarakan, ataukah memandang bangga si Afctah yang ramai dengan lesung indah dikedua pipinya jika berbicara, dan jika kau saksikan lebih detail, senyuman tipisnya lah yang menawrkan permainan translingistik, hingga hidung yang tak terlalu mancung terlihat menarik sebagai hasil relasi utuh bentuk wajahnya yang oval. Sementara Shiva yang terlihat serius, kadang memandang sinis, Eko,  ketika lelaki itu  menatap Afctah.  aku jadi yakin kalau Sang Dewa Hermes sedang menafsirkan tatapan Eko pada Shiva, hingga menghasilkan air muka yang tertulis kecemburuan, walau agak samar bagiku. Dan memang aku juga kadang munafik, mencuri pandangan dengan perhatian berbeda pada Afctah, tapi  itu cepat dikalahkan oleh animos yang lebih pada thema ini, hermeneutika. Edger kembali dari toilet dan mengambil posisi bersebelahan dengan Shiva, akupun mencoba mencuri pandangan sejenak kearah Afctah atas pilihan Edger yang duduk tidak disampignya lagi, tapi yang terlihat hanyalah kesayupan tatapan. Entah karena ngatuk atau logika mutasi tuk alihkan perhatian. Aku belum mampu berhermeneutik tentang merekea, Afctah dan Edger.

“Jadi sudah sampai dimana?” Tanya Edger yang baru saja duduk

“Seni memahami,  scheleiermacher? jawab afctah dengan intonasi yang datar.

Sambil memandang edger, aku bertnaya  “apakah dengan konsep yang ditawarkan Ast dan Wolf , bisa menajamin kita dalam kemurnia interpretasi?”

“Interpretasi sebuah  karangan?”, Tanya Edger balik

“Iya seperti itu”

“hmm….Gimna ya, banyak sekali pendapat tentang itu, ada yang mengatakan mustahil mengetahui maksud pengarang, dan ada juga yang optimis, dan scheiermacher mungkin bagian dari orang optimis itu”.

“Jadi, hal fundamental seperti apa yang ia bicarakan dalam bidang ini?, Tanya Eko, dan kini giliran Edger tuk menjelaskan, sementara Afctah, terlihat membuka ponsel dengan wajah sedikit cemberut untk melihat panggilan atau SMS yang dia reject ketika berbicara.

“Bagi scheleiermacher yang paling penting untuk memahami pengarang adalah dengan melakuan dua bentuk Interpretasi, yakni iterpretasi Gramatis dan interpretasi Psikologis”

Apakah Garamatis menurut scheleiermacher sama dengan dua pendahulunya tadi?”

“Secara garis besar, iya. Misalnya, seorang pembicara atau pengarang membentuk kalimat; pendengar menembus struktur kalimat tersbut dengan pikirannya, nah dari situ terdapat relasi atau ineraksi, seperti yang saya katakana tadi. Gramamatis, psikologis. Sehingga ketika anda mendengar atau membaca kalimat, secara lansung menghasilkan semacam proses mental dalam diri anda. Nah, relasi inilah yang dinamkan dengan lingkran hermeneutis”.

“Lingkaran Hermeneutis?”

“Begini !, pemahaman kita pada dasarnya merupkan tindakan referensial, kita memahami sesuatu karena mengkomparasikannya dengan sesatu yang telah kita ketahui, misalnya, ketika kita berbicara tentang semiotika, dan, diantara kita belum pernah tahu apa yang disebut dengan semiotika, selanjutnya ketika kebelumtahuan itu dipecahkan dengan membaca atau berdiskusi, maka kata-kata yang anda pakai untuk memahami itulah sebagai peoses atau tindakan referensi tadi”.

“Contoh lain misalnya?”, Tanyaku

“Misalnya dalam sebuah kalimat, kita memahami makna tunggal kalimat dengan melihat pada bagian-bagiannya, kata-kata yang menyusun kalimat. Secara bersamaan, kita harus tahu dulu makna setiap kata dalam kalimat itu, disini opsisi terjadi, namun bukan untuk menegasikan atau membuatnya berbeda dari kata-kata lain, tapi opsisi yang kemudian disatukan dengan relasi dialektis antara kata-kata dalam sebuah kalimat, hasil dari relasi itulah yang melahirkan makna tunggal sebuah kalimat.

Apakah itu merupakan bagain dari interpretasi garamatis? Tanya Eko sambil memaberikan rokok padaku, sementara Shiva memandang kearah danau dengan tatapan ringan—padangan  yang searah dengn wajah Edger yang duduk sedikit membelakangi danau—yang mungkin sedang  berusaha memahami apa yang baru dijelaskan. Pandangan Afctah tertuju pada Shiva, kemudian ekor matanya beralih ke Edger yang sering ditatap Shiva ketika memandangn lelaki yang didekatnya memberikan penjelasan. Mungkin si Acftah sedang terlibat dalam penafsiran psikologis, atau juga berada dalam nuansa complex Oedipus yang tak mau temannya, Edger, ditatap oleh yang lain, Shiva. Hujan masih saja menerjang.

Edger, yang sedang memegang cangkir kopinya menjawab, “iya seperti itu, disini,  yang grammatis ditempatkan berdasarkan aturan objektef  bahasa, sementara sisi psikologis interpretasi memfokuskan pada sisi individu yang bicara atau pengarang, nah, menurut scheleiermacher, karena setiap pembicara memiliki hubungan ganda  baik kepada keutuhan bahasa ataupun kepada pemikiran kolektif pembicara. Jadi, momen bahasa milik interpretasi gramatis, semantara  memahami merupkan sesuatu yang lahir dari bahasa sebagai sebuah fakta dari pembicara. Jadi, ada semacam relasi diologis dan transformasi kejiwaan antara pembicara dan pendengar, atau penulis dan pembaca”.

“Kanyanya agak mirip dengan pandangan Saussure, “kilah ku. Dan, dengan nada yang tak terlalu keras atau desiran air hujan bergemericik yang mengganggu pendengaranku, Aftah menambahkan “iya, memang agak mirip, setiap kata, dalam pandangan Saussure, mempunyai pengarauh pada elemen mental kita, atau ketika disebutkan pasti makna pun terlahir yang kita rasakan secara psikologis. Tapi, dia tidak, atau memang saya belum baca, berbicara tentang interpretasi ganda seperti scheleiermacher. Dan yang psikologis ini, kemudian menjadi cari khas bagi Hermeneutika Wilhelm Dilthey”.

“Namapaknya bukan scheleiermacher saja yang bicara tentang Hermeneutika”, Sangka ku.

“Oh iya, jelas”,

Siapa-siapa saja?”

“Scheleiermacher, yang semntara kita diskusikan, Wilhelm Dilthey, Martin Heidegger dan Gadamer, dan ada juga yang lain tapi dari mereka berempat inilah hermeneutika mendapatkan tampat dalam berbagai disiplin, dan  kalau kita mau berbicara tentang mereka itu, mungkin butuh waktu saminggu, bahkan”.  Mendegar jawaban Afctah tersebut, aku jadi agak nerveous, mungkin ia sementara menunjukan kalau saatnya untuk bubar, maklum sudah hampir pukul 12 malam. Atau cepat-cepat pergi  dengan alasan lain, mungkin. Tapi untunglah hujan makin lebat, hingga kita masih bertahan beberapa saat, para pemilik warung pun memahami keadaan itu, hingga mengurungng nita mereka untuk menutup warung  yang seharusnya ditutup beberapa saat lalu.

“Kalau Dilthey, apa yang ia bicarakan?” Tanya ku

“Pada dasaranya diltehy mengembangkan lebih jauh psikologisnya Schleiermacher, namun disni ia kemudian menamakan metodenya sebagai Geistwisseschaften. Atau metode ilmu kemanusiaan”.

“Metode yang kayak gimana, apakah berbentuk semacam metode ilmiah?

“Dilthey, adalah orang yang kemudian mengkritik pemakaian metode ilmiah atau ilmu-ilmu alam yang diterapkan pada manusia. Menurutnya, manusia bukan objek yang bisa diteliti dangan anailis matematis, tapi harus dipahami. Singkatnya, objek sains membuthkan data atau mebutuhkan penjelasan yang menurutnya agak reduksionis mekanistis, sementara manusia yang dibuthkan adalah memhami”.

“Bukankah penjelasan merupakan bagian dari dasar Hermeneutika?”

“Memang, tapi kata itu bagi Ditlhey tidak cocok aja untuk memahami manusia, penjelasan tidak bisa mendapatkan ekspresi kehidupan batin mansuia.. disini ada nuansa romantic untuk kembali pada hidup itu sendiri”.

“Maksudnya, kembali ke hidup itu sendiri seperti apa?”

“Ada beberapa pendapat bahwa untuk memahami Dilthey, ataupun Heidegger dan Gadamer, tak bisa terlepas dari term historisitas. Jadi, untuk memahami Dilthey, kita harus mengklarifikasi konteks problem dan tujuan utama yang ia upayakan untuk menemukan suatu basis Geistwisseschaften, mislanya, bagamana pandangan dia terhadap sejarah, dan, orientasi hidupnya. Ada hal menarik, bahwa ia menolak segala bentuk metafisis ketika memahami fenomena kemanusiaan”.

Namapkanya, Afctah telah memberikan sebuah permainan bahasa tubuh bagi Edger, kemudian, dan mungkin tak jua dipahami, atau pura-pura tak memahami, afctah pun berkata “diskusinya mungkin kita akhiri dulu, kalau ada kesempatan kita kan melanjtukan, sudah terlalu pagi bagi saya untuk berada dirumah” mendengar itu Shiva dengan senyum tipis, menambahkan “iya betul, nanti kita lanjut lagi” Hujan masih seperti biasanya, air dijalanan hampir menutupi bahu jalan, namun kami bersedia setelah membahas sedikit lebih jauh tenatang Diltehy. Disini, Edger selalu tampil menjelaskan, Afctah, yang barangkali sudah ngantuk atau memberontak dalam hati akibat semakin dekat Edger denagn Shiva, sehingga kadang bungkam dalam riabun bahasa perlawanan, hingga auranya seperti sedang memakan buah-buahan yang kecut.

Eko, mengakhiri permintaan itu dengan bertanya, “jadi apa yang ciri khas dari Dilthey?”

“Ada yang menarik juga, seperti saya katakan sebelumnya, bahwa, yang namanya introspeksi untuk memahami diri kita ia tolak sejak awal tapi hanya melalui sejarahlah kita menemukan siapa kita. Thus, disni ia mencoba memberikan beberapa term sebagai formula Hermeneutikannya.  yakni, Pengalaman, Ekspresi dan pemahaman”.

“ilmu kemanusiaan menurutnya tidak seharusnya memahami kehidupan dalam terminology kategori ekstrinsik tetapi harus dari kategori instrisik yang terdapat dalam hidup itu sendiri.  Pengalaman hidup harus dilihat dalam terminology makna, sebab kehidupan adalah pengalaman manusia yang dikenal dari dalam”.

“Kalo begitu bukankah kita sedang terlibat dalam instrospeksi diri?” Eko bertanya

‘Nah, menurut Dilthey, ketika kita terlibat dalam mengkuantifikasi pengalaman, seolah-olah apa yang telah terjadi merupakan sesuatu yang terpisah dari diri kita saat ini, maka kita sudah berada dalam kaetgori sains, yaitu penjelasan yang di tolak Dilthey tadi”.

“Apakah term Penjelasan selalu mereduksi atau bersifat mekanis?” Tanyaku.

“Memang, dengan keterbatasanku, saya agak sulit menerima itu, tapi kita harus mengikuti dulu alaur pemikirannya”..

Sambil membenarkan letak jaket ku, aku malanjutkan, “apakah terminology pengalaman, ekspresi dan pemaghaman punya hal sama, dalam artian apakah ada yang berbeda dari yang selama ini kita pahami?

“Iya, mungkin saja?

“Seperti pengalaman, Dilthey menunjuk kata ini yang bahasa jermannya ‘Erfahrung’ dan ‘Erlebnis’, yang pertama menunjuk pada pengalaman bersifat umum. Diltehy menggunakan kata yang lebih spesifik, Erlebnis yang diturunkan dari kata kerja Erleben yang dalam habasa Indonesia artinya mengalami khususnya urusan individual.. thus, pengalaman dalam bahasa jerman sama dengan kata kerja hidup, suatu bentuk empati yang mensugestuikan peristiwa hidup lansung yang didapati dalam keseharian”.

“Bisa diberikan semacam gambaran atau contoh?”
“Dalam pengalaman melukis misalnya, mungkin apa yang mau dilukis mencakup dengam banyak perjumpaan dengan pengalaman-penglaman lain yang dipsahkan waktu, namun tetap saja disebut sebagai pengalaman. Atau pengalaman cinta romantic misalnya, pengalaman cinta ini tidak didasarkan pada suatu perjumpaan hidup namun secara bersama membeawa peristiwa berbagai bentuk, waktu dan tempat; disini kesatuan makna sebagai pengalaman mengangkatnya dari arus kehidupan dan menjadikannya secara bersama-sama dalam suatu makna yankni pengalaman”.

Shiva, yang sementra mencatat, mungkin agak kurang memahami—begitupun saya dan mungkin juga Eko— atau kurang puas dengan penjelasan itu, dan bertanya “ jadi kalau seperti itu apakah ada semacam ruang untuk diri kita untuk memahami sebuah pengalaman?, apakah sifatnya reflex? Karena menurut saya kita butuh semacam ruang untuk kemudian memahami pengalaman itu?”

“Pengalaman adalah kata kunci hermeneutikanya Dilthey; pengalaman tidaklah dibentuk sebagai sebagai kandungan perlikau kesadaran reflektif, lebih dari itu ia merupakan perilaku itu sendiri, ia merupakan sikap dimana kita hidup dan kita lalui, atau ia merupakan sikap yang sementara kita jalani untuk hidup dimana kita hidup. Tapi, pengalaman bisa disebut sebagai objek refleksi, namun tidak lagi merupakan pengalaman lansung, tetapi merupakan objek dari perilaku pertemuan dengan pengalaman lain. Dengan demikian pengalaman bukanlah tidakan kesadaran manusia, ia bukan bentuk bentuk sebagai sesuatu dimana kesadaran berlaku dapat memahaminya, jika pengalaman sebagai sebuah kesadaran maka kita sudah terlibat dalam pemahaman sains yang  dimana kita adalah subjek dan pengalaman adalah objek, inilah yang tidak diinginkan Diltehy. Jadi, pengalaman tidak dibedakan dari tindakan memahami dirinya sendiri, ia merepresentasikan lansung dengan hidup yang kita sebut sebagai pengalaman hidup lansung”.

“Misalnya Diltehy menegaskan ‘cara bagaimana pengalaman hidup menghadirkan dirinya kepada saya secara sempurna berbeda dari bagamana citra Nampak dihadapan saya. Kesadaran pengalaman dan bentuknya dalah sama: tidak ada pemilahan antara apa yang hadir untuk saya dan apa yang ada dalam pengalaman hadir untuk saya. Dengan kata lain, pengalaman tidaklah seperti sebuah objek berhadapan dengan orang yang berpengalaman itu, namun keberadaanya yang sebenarnya bagi saya tidaklah berbeda dari dari keberadaan apa yang hadir bag saya dalam pengalaman tersebut’.

“Berarti disini terdapat semacam temporalitas untuk manarik segala bentuk pengalaman pada suatu titik?

“Bukan semacam, tapi temporalitas konteks hubungan yang ada dalam pengalaman. Pengalaman bukanlah hal statis; sebaliknya dalam kesatuan maknanya pengalaman cenderung menjangkau dan meliputi baik relokasi masa lalu dan antisipasi masa depan dalam konteks makna secara keseluruhan. Seperti misalnya,  makna tidak dapat dibayangkan kecuali dalam term-term apa yang diharapkan dari masa depan juga tidak dapat dibayangkan lepas dari ketergantungannya terhadap tradisi masa lalu”.

“Apakah ini yang dinamakan historisitas pemahaman?”

 “Ya, seperti itu, historisitas tidak terfokuskan pada masa lalu saja, namun historisitas merupakan afirmasi temporalitas pengalaman sebagaimana yang dijelaskan barusan”.

“Semantara ekspresi yang dimaksud adalah perasaan. Bagi Dilthey, sebuah ekspresi bukanlah merupakan pembentukan perasaan namun lebih sebagai ekspresi hidup; disni sebuah ekspresi  mengacu pad ide, hukum, bentuk social, bahasa, singkatnya segala sesauatu yang merefleksikan produk kehidupan dalam mansuia.

“Apakah tradisi secara keseluruhan masuk dalam kategori ini?”, Shiva bertanya

“Iya, kita akan memahami kehidapuan manusia jika kita bisa memahami ekspresi dalam bagian dari kondisi social secara keseluruhan”

“Lalu, kalau begitu pemahaman seperti apakah menurut Dilthey, apa ia punya term yang juga bebrbeda maknanya?”

Pemahaman seperti halnya  ekpresi dan pengalaman digunakan dalam makna khusus. Dengan demikian pemahaman tidak mengacu pada pada pemahaman konsepsi rasional seperi matematika. Pemahaman dipersiapkan untuk menunjuk pada aktivitas operasional dimana pemikiran memperoleh pemikiran dari orang lain, karna dari sanalah kita bisa memahami apa yang dinginkan atau apa yang dirasakan sesorang. Dinisi seperti dikatakan Schleiermacher, ada semacam transformasi kejiwaan dimana terdapat aktivitas mental yang bekerja untuk memahami. Dalam pernyataan singkat dari Dilthey, Kita menjelaskan hakikat; orang yang harus kita pahami, dengan begitu ia merupakan proses jiwa dimana kita memperluas pengalaman hidup

Nampaknya, kami berlima yang sementara tenggelam dalam dunia para dewa—hermes—dikejutkan oleh surah dari Dilthey, bahwa dalam momen tertentu  kata-kata tidak berfungsi sebagai instrument menjelaskan apa yang kita inginkan, tapi, kita butuh komunikasi kejiawaan dalam kebungkaman suara untuk salang memahami. Dari sini kami mengakhiri diskusi itu, walapun hujan masih lebat, kami harus rela dilumuri desiran hujan tuk basahi jiwa yang kadang diterpa kegersangan.

Sambil membicarakan tentang Heidegger,  Gadamar dan lainnya, Afctah dan Edger berjani untuk kita lanjukan lagi, sebab masih banyak yang belum diskusikan terkait dangan Hermeneutika. Kami pun, bertransaksi nomur kontak tuk permudah komunikasi.

Kami bergegas kearah beranda, wajah Afctah terlihat cerah, Shiva pun begitu. Sampai disni, aku masih saja berhemeneutik tuk memahami siapa dan seperti apa mereka sebenarnya yang tidak aku tanyakan lansung. Mungkin ketika dilumuri hujan aku bisa mendapatkan bisikan dari Sang Hermes tentang siapa mereka. Kami pun beranajak pulang kerumah masing-masing… 

Memang ‘Kata adalah senjata’ (Subcomandante Marcos), tapi itu saja tak cukup
Butuh “bahasa” sebagai amunisinya, Letusan sebagai intonasinya.
Ketika ketiganya berfungsi dengan baik, musuh mana yang tak takluk padanya?.
(Arie Samal)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar