Kamis, 02 Februari 2012

Love Paradox

Seperti dalam detik cahaya
Aku merasa terlalu cepat ketakpastian ini berakhir pasti
Langit yang tadinya masih membiru
Berubah kehijauan bak aurora yang tak bisa aku genggam
hanya menyaksikan percikan korona dalam jantung cakrawalamu
Iyah, mungkin dunia terlalu gerah bagimu bak badai meluapkan api?
ooh.. kau layaknya para inkusitor romawi yang mengadopsi struktural sastrawi
membunuh metaforis, meledakan simbolik bekukan maknawi
kata-kataku pun menjadi senjata yang mebunuh diri sendiri.
Seperti pelangi dimana aku mesti sejajar dengan garis spectrum
Hanya merasa atau meyaksikan keindahan
Tapi, eksisitensiku yang mengawang Nampak tak kau basahi
Hingga biasnya matahari hanya menyisakanku yang tampak tanpa warna

Aku mencitaimu tanpa membutuhkan segerombol aksioma
Aku menyayangimu tanpa harus memiliki teorema
Tapi, rasa sudah cukup menjadi tanda dimana kita adalah sama
Mungkin kau masih saja terbelenggu dalam kepastian logos modernitas
Dan mereduksi dirmu menjadi Ada hanya ketika kau bermesra
Atau membagi dirimu diantara para penganut kebebasan setengah hati
Hingga langkahmu kadang terhenti diantara konvensi yang tak kau hasrati

Saat malam hadirkan kubah kebencian
Ia bukanlah akhir dari jejak yang tak terjawab dalam sejarah
Tapi, sebentuk sentiment ilmuan yang terperangkap kekakuan episteme
Entah, mungkin music malam ini terlalu syahdu
Hingga pikirpun berubah menjadi keragauan ala mysterian
Iya,.. aku terlibat dalam memisteriuskan segala tentang kamu

Aku mencintaimu tanpa membutuhkan apapun
Kecuali jika kau bukan lagi misteri

                                                                       tuk dia yg jauh disana 122829

Tidak ada komentar:

Posting Komentar