Oleh; Arie Samal
Tiga hari sudah ia berlalu tanpa kata
apapun, tiga hari pula aku seperti berada dalam ketaksadaran ala Freud
kemudian membenamkan diri pada sosok yang tak pernah ku temui dalam
dunia real ku. Entah dari mana ia datang dan dari mana ia berasal.
Sungguh, aku tak pernah tahu siapa dia, apakah dia dan dimana dia
berada. Yang aku tahu dia hanyalah seorang gadis yang sebaya denganku,
yang kuingat hanyalah sesosok wajah berbentuk oval, bola matanya sipit
seperti sedang disilaukan oleh seberkas cahaya, alisnya tidak begitu
tebal berbentuk seperti bulan setengah sabit yang sedikit dihalangi awan
tipis, hidung yang tak begitu mancung kemudian lesung pipi yang
tertanam seperti kawah Merapi yang baru saja berapi, rambut bergelombang
seperti garis edar planet yang mendiami seisi cakrawala. Kau akan
menyassikan Sebuah wajah oriental yang datang kepadaku kemudian
bersedu dengan tetesan air mata hingga nampak jelas bagiku akan
kesediahan yang ia rasakan.
Aku hanya berdiri dan
menatap-dalam akan keluhannya yang tanpa kata apapun. Seorang teman
yang kebetulan lagi bersamaku memukul pelan bahuku sebagai tanda kalau
ia ingin memberitahu bahwa gadis yang didepanku ingin berbicara
denganku, kemudian diapun pergi. Tanpa menunggu lama, ku hampiri dengan
sebuah kalimat layaknya seperti orang yang baru berkenalan. Ia tetap
membisu dan menjongakan kepala ke puncak cakrawala seolah mau
menghempaskan desah terdalamnya sebagai tanda tidak dimengertinya apa
yang baru saja aku tanyakan.
Dengan bahasa yang sama, ku
ulangi lagi pertanyaanku. Tapi ia tetap saja diam dalam riabuan bahasa
kemudian menggelengkan kepalanya. Sebuah permainan tanda bahasa tubuh
yang bermakna tidak tahu atau tidak memahami. Tiga menit hampir berlalu,
kami pun hanya saling menatap. Tatapan yang menurut saya lebih bermakna
jika dibandingkan dengan makna yang dihasilkan oleh komunikasi-bahasa
oral.
Matahari hampir ditelan nyiur yang melambai,
partikel cahayanya menembus ranting-ranting pohon disekitar kami
berdiri. Sebuah sinar keemasan berhasil menembus disela dedaunan hingga
melingkari wajah lesuh gadis itu, kemudian menghasilkan warna baru
menyrupai jingga yang menempel di wajahnya, dan akan semakin
memperjelas wajah natural perempuan-perempuan melayu-Timur. Tiba-tiba
aku melihat mulut gadis itu bergumam, dan kemudian mengeluarkan sebuah
kalimat yang bukan bahasa di Negeri ini. Mungkin ia sadar kalau aku
tidak mendengar apa yang baru saja di ucapakan, ia pun mengulangi
kalimat yang sama, kalimat yang memperjalas kalau dia bukan
sebangsa-setanah air denganku.
Sebuah konvensi yang
dipaksakan oleh budaya raksasa kalau bahasa Inggris dijadikan sebagai
bahasa kumunikasi internasional, yang konsekuensinya tidak sedikit
menghancurkan tatanan bahasa negeriku. Ya, aku tahu, dengan berbahsa
inggris, ia menyapa ku dan bertanya apakah aku bisa berbahasa inggris?.
Diriku seperti berada dalam sebuah cerita fiksi dimana scenario yang ku
mainkan dengan orang asing yang kutemui di wilayah timur negeri ini.
Kebetulan
aku bisa sedikit memahami bahasa aneh itu, bahasa inggris, dan akupun
melibatkan diri bersamanya dengan permainan tanda-tanda didalamnya
sehingga aku bisa tahu dan mengerti berasal dari maknakah gadis aneh
ini. Seperti kebanyakan perempuan jika sedang dalam kesusahan atau
kegelisahan, air mata terus mengalir bersamaan dengan penjelasannya
padaku tentang kegundahannya dan juga identitasnnya. Namun ada hal aneh
yang terjadi, kami tidak pernah saling menanyakan nama masing-masing,
dan itulah penyebabnya hingga kini aku belum juga tahu siapa namanya.
Dia
seorang gadis yang berasal dari Thailand, berlibur ke Indonesia bersama
keluarganya. Namun entah apa yang terjadi, ketika mereka sedang
menikmati keindahan pasir putih pantai desaku, tiba-tiba ia berpisah
secara tak sengaja dengan keluarganya. Disitulah awal dia kehilangan
kontak dengan kelurganya. dua hari berlalu, ia pun terpaku dengan
kesendiriannya. Tak tahu jalan kembali ke hotel, dan sebuah nasib sial
menimpanya kalau telpon gengamnya tertinggal di hotel yang menyebabkan
ia tak bisa melakukan komunikasi dengan siapapun. Anda bida bisa
bayangkan bagamana perasaan gadis itu yang terdampar aneh di nergeri
yang asing bagi dia.
Tanpa terasa hari hampir gelap,
nyiur-nyiur seolah lelap dalam gemerlap, bintang-bintang sebagai hiasan
malam telah nampak mengelopak. Aku berusaha meyakinkan gadis itu akan
siapa diriku agar dia mau ku ajak nginap dirumahku. Sebuah tawaran yang
membuatnya ragu, mungkin karena tampangku sedikit atau bahkan sangar
menurut dia. Dengan sok suci, aku kembali meyakinkan gadis itu dan
akhirnya ia setuju untuk menginap di rumahku. Kami pun bergegas pulang.
Tiga hari sudah kami bersama, seperti seorang Guide, akupun
membawanya mengelilingi berbagai pemandangan indah di sekitar desa ku.
Sesekali ia tampak senang meyaksikan keindahan pantai laut yang
membuatnya seolah telah melupakan kegundahan yang sementara menimpaya.
Diantara senyum-senyum tipisnya dalam melihat lukisan alam, sesekali,
disela oleh tetesan air mata kemudian sekilas wajah murung yang
menunjukan kalau ia masih sedih ditinggal keluarganya. Akupun tak
ketinggalan untuk terus menunjukan hal-hal baru baginya agar ia tetap
ceria dan mengukir senyumnya yang indah. Kau pasti akan menyaksikan
senyum tipis yang berkolaborasi dengan kondisi alam melengkapi keindahan
kemudian menghdirakn pemandangan di pantai ini membuat yang suasana
hati benar-benar terlempar dalam keseharian kami. Apa yang diakatakan
Heiddeger tentang ‘Dunia’ sedang kami alami bersama. Kebersamaan yang
baru terjalin beberapa hari membuatku benar-benar kerasaan didalamnya
yang hingga kini belum juga aku tahu seperti apa perasaakau padanya.
Dalam
sebuah obrolan kami dibawah rindangnya ranting dedaunan, dia menunjuk
kearah sebauh perahu kemudian menagatakan keinginanya untuk mendayung.
Keinginannya terpenuhi, dan kamipun berdayung bersama melihat
karang-karang indah bawah laut yang aneka warnanya smembentuk sebaris
pelangi di dasar laut. Taman laut yang masih benar terpelihara sehingga
ikan-ikan dengan berbagai macam warna mendekat dan berteduh dibawah
perahu yang kami naiki. Ia berkata kalau pemandangan seperti ini tak
bisa dijumpai lagi di negerinya, disebabkan oleh limbah industri yang
dibuang ke laut sehingga mematikan ribuah spesies ikan yang ada. Gadis
itu mencelupkan tangannya ke dalam laut, tiba-tiba munculalah beberapa
ekor ikan berwarna merah dengan sisik putih yang agak kasar yang
ukurannya sekitar 14 Cm. Ikan-ikan itu tampak jinak bersandar di jemari
tangannya sehingga ia berhasil memegang salah-seekor diantarnya. Tak
lama kemudian ia melepaskannya, dan berkata kalau ada mitos di negerinya
yang tidak mengijinkan mereka tuk makan daging ikan. Sebauh pernyataan
yang mengajak aku harus menghargainya.
Hari semakin panas,
mentari semakin sombong memancarkan sinarnya ke laut yang terbuka. Laut
yang biru bercampur cahaya mentari menghasilkan warna biru metalik
memperjelas akan dalamnya laut ini. Gadsi itu masih saja memandang
keindahan karang, namun jika anda perhatikan, ia sama sekali tak
memperhatikan keindahan itu melainkan wajahnya yang tergandakan oleh
beningnya air laut, sebuah kesempatan baginya untuk bercermin. Setets
air matanya jatuh kedalam laut membentuk gelombang kecil indah
diatasnya. Aku tahu dia sedang sedih. Tiba-tiba ia berdiri mendekat
kearahku dan menjatuhkan badannya dipangkuannku. Isak tangisnya membuat
ia bergetar yang getarannya bisa kurasakan hingga ke alam dadaku. Aku
dibautnya hampir terlena, pelukannya pun semakin erat. Dengan bahasa
yang sedih ia memintaku tuk mencari dan menemui keluargnya.
Tiga
jam sudah kami diatas laut, dan tiga jam pula menjadi waktu kemudian
saksi kalau aku bukan lagi kasihan sama gadis itu, melainkan rasa yang
bercampur dengan kasih sayang atau mungkin juga iba yang lahir dari
permainan tanda “bahasa” kami berdua. Rasa yang hampir merubah pikiranku
tuk tetap dekat dengannya. Hari semakin sore, kami pun masih terapung
dilaut. Gadis itu tertidur dipangkaunku, sebuah kesempatan bagiku tuk
menatap dalam wajah sedihnya, wajah yang benar-benar natural tanpa
polesan apapun. Karena waktunya untuk pulang, aku membangunkannya, gadis
itu terbangun dalam keadaan terisak dan tetap melekatkan kepalanya
dipangkuanku. Tapi aku berhasil membujuknya, dan kami pun bergegas
pulang.
Hari semakin malam, dan karena kecapean membuat
dia harus lebih awal tuk istirahat. Namun sebelum tidur kami terlibat
dalam sebuah percakapan singkat. Gadis itu mengungkapkan rasa terima
kasihnya padaku akan semua yang telah ku lakukan padanya, ia berkata
kalau persaannya padaku telah berubah semenjak ia tertidur dipelukanku.
Aku bertanya seperti apa perasaan itu?, sebuah pertanyaan yang
mengharapkan sesuatu untuk ia ungkapkan, tapi dia hanya berkata kalau ia
merasa senang dan ceria berada disisiku, rasa yang menurutnya mustahil
diutarakan dengan bahasa oral. Gadis tersebut mengakhiri percakapan itu
dengan pengharapan semoga kita bisa bersama lagi seperti di siang tadi.
Ia pun memejamkan matanya. Aku bergegas keluar dari kamarnya, dan
mengambil bagianku untuk beristirahat dikamar sebelah.
Hari
telah pagi, sang mentari berhasil menembus jendela kamarku. Matahari
pagi yang tak begitu terik menyentuh setengah badanku, namun membuatku
terjaga dari tidurku. Dengan tergesa-gesa aku pun berlari keluar
bermaksud melihat gadis itu, namun dia sudah tidak lagi berada disana.
Ke kamar mandi, dapur dan ruang tamu sudah ku cari namun tetap saja
nihil.
Aku memutuskan kembali ke ranjang tidurku dan
memberikan sedikit waktu tuk merenung, dan aku baru sadar kalau
pertemuanku dengan Gadis itu hanya dalam Mimpi semalam. Mimpi yang
membuatku termenung seharian. Wajah gadis aneh itu benar-benar menghiasi
isi kepalaku, sehingga aku hampir tak bisa mempercayai apakah itu
hanyalah mimpi ataukah benar-benar terjadi.
Aku tak tahu
apakah ini gejala somatic ataukah mental dari mimpi itu. Ya,…mimpi
semalam berhasil membuatku larut, dan aku hampir berkesimpulan juga
apakah ini memang “nyata” dalam dunia skizofrenik? Apakah kejadian Jhon
Nash dalam beautiful Mind sedang aku alami?. Tidak, saya yakin tidak,
itu hanyalh mimpi namun tak pernah berawal dari sebuah fantasi atau
imaji apapun. Aku tak pernah berfantasi bahkan berimajinasi apapun
sebelum tidur. Jadi, sekali lagi ini hanyalah mimpi tanpa fantasi
apapun. Namun dalam kesadaran penuh, aku berharap semoga bisa bertemu
lagi dengan gadis itu dalam mimpi selanjutnya, agar aku bisa menanyakan
siapa namanya?.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar