Kamis, 02 Februari 2012

Gadis Aneh di “Dunia” yang Memang Aneh

Oleh; Arie Samal

Tiga hari sudah ia berlalu tanpa kata apapun, tiga hari pula aku seperti berada dalam ketaksadaran ala Freud kemudian membenamkan diri pada sosok yang tak pernah ku temui dalam dunia real ku. Entah dari mana ia datang dan dari mana ia berasal. Sungguh, aku tak pernah tahu siapa dia, apakah dia dan dimana dia berada. Yang aku tahu dia hanyalah seorang  gadis yang sebaya denganku, yang kuingat hanyalah sesosok wajah berbentuk oval, bola matanya sipit seperti sedang disilaukan oleh seberkas cahaya, alisnya tidak begitu tebal berbentuk seperti bulan setengah sabit yang sedikit dihalangi awan tipis, hidung yang tak begitu mancung kemudian lesung pipi yang tertanam seperti kawah Merapi yang baru saja berapi, rambut bergelombang seperti  garis edar planet yang mendiami seisi cakrawala. Kau akan menyassikan  Sebuah wajah oriental  yang datang kepadaku kemudian bersedu dengan tetesan air mata hingga nampak jelas bagiku akan kesediahan yang ia rasakan.

Aku hanya berdiri dan menatap-dalam akan keluhannya  yang tanpa kata apapun. Seorang teman yang kebetulan lagi bersamaku memukul pelan bahuku sebagai tanda kalau ia ingin memberitahu bahwa gadis yang didepanku ingin berbicara denganku, kemudian diapun pergi. Tanpa menunggu lama, ku hampiri dengan sebuah kalimat layaknya seperti orang yang baru berkenalan. Ia tetap membisu dan menjongakan kepala ke puncak cakrawala seolah mau menghempaskan desah terdalamnya sebagai tanda tidak dimengertinya apa yang baru saja aku tanyakan.

Dengan bahasa yang sama, ku ulangi lagi pertanyaanku. Tapi ia tetap saja diam dalam riabuan bahasa kemudian menggelengkan kepalanya. Sebuah permainan tanda bahasa tubuh yang bermakna tidak tahu atau tidak memahami. Tiga menit hampir berlalu, kami pun hanya saling menatap. Tatapan yang menurut saya lebih bermakna jika dibandingkan dengan makna yang dihasilkan oleh komunikasi-bahasa oral.  

Matahari hampir ditelan nyiur yang melambai, partikel cahayanya menembus ranting-ranting pohon disekitar kami berdiri. Sebuah sinar keemasan berhasil menembus disela dedaunan hingga melingkari wajah lesuh gadis itu, kemudian menghasilkan warna baru menyrupai  jingga yang menempel di wajahnya, dan akan semakin memperjelas wajah natural perempuan-perempuan melayu-Timur.  Tiba-tiba aku melihat mulut gadis itu  bergumam, dan kemudian mengeluarkan sebuah kalimat yang bukan bahasa di Negeri ini. Mungkin ia sadar kalau aku tidak mendengar apa yang baru saja di ucapakan, ia pun mengulangi kalimat yang sama, kalimat yang memperjalas kalau dia bukan sebangsa-setanah air denganku.

Sebuah konvensi yang dipaksakan oleh budaya raksasa kalau bahasa Inggris dijadikan sebagai bahasa kumunikasi internasional, yang konsekuensinya tidak sedikit menghancurkan tatanan bahasa negeriku. Ya, aku tahu, dengan berbahsa inggris, ia menyapa ku dan bertanya apakah aku bisa berbahasa inggris?. Diriku seperti berada dalam sebuah cerita fiksi dimana scenario yang ku mainkan dengan orang asing yang kutemui di wilayah timur negeri ini.
Kebetulan aku bisa sedikit memahami bahasa aneh itu, bahasa inggris, dan akupun melibatkan diri bersamanya dengan permainan tanda-tanda didalamnya sehingga aku bisa tahu dan mengerti  berasal dari maknakah gadis aneh ini. Seperti kebanyakan perempuan jika sedang dalam kesusahan atau kegelisahan, air mata terus mengalir bersamaan dengan penjelasannya padaku tentang kegundahannya dan juga  identitasnnya. Namun ada hal aneh yang terjadi, kami tidak pernah saling menanyakan nama masing-masing, dan itulah penyebabnya hingga kini aku belum juga tahu siapa namanya.

Dia seorang gadis yang berasal dari Thailand, berlibur ke Indonesia bersama keluarganya. Namun entah apa yang terjadi, ketika mereka sedang menikmati keindahan pasir putih  pantai desaku, tiba-tiba ia berpisah secara tak sengaja dengan keluarganya. Disitulah awal dia kehilangan kontak dengan kelurganya. dua hari berlalu, ia pun terpaku dengan kesendiriannya. Tak tahu jalan kembali ke hotel, dan sebuah nasib sial menimpanya kalau telpon gengamnya tertinggal di hotel yang menyebabkan ia tak bisa melakukan komunikasi dengan siapapun. Anda bida bisa bayangkan bagamana perasaan gadis itu yang terdampar aneh di nergeri yang asing bagi dia.

Tanpa terasa hari hampir gelap, nyiur-nyiur seolah lelap dalam gemerlap,  bintang-bintang sebagai hiasan malam telah nampak mengelopak. Aku berusaha meyakinkan gadis itu akan siapa diriku agar dia mau ku ajak nginap dirumahku. Sebuah tawaran yang membuatnya ragu, mungkin karena tampangku sedikit atau bahkan sangar menurut dia. Dengan sok suci, aku kembali meyakinkan gadis itu dan akhirnya ia setuju untuk menginap di rumahku. Kami pun bergegas pulang.

Tiga hari sudah kami bersama, seperti seorang Guide, akupun membawanya mengelilingi berbagai pemandangan indah di sekitar desa ku. Sesekali ia tampak senang meyaksikan keindahan pantai laut yang membuatnya seolah telah melupakan kegundahan yang sementara menimpaya. Diantara senyum-senyum tipisnya dalam melihat lukisan alam, sesekali, disela oleh tetesan air mata kemudian sekilas wajah murung yang menunjukan kalau ia masih sedih ditinggal keluarganya. Akupun tak ketinggalan untuk terus menunjukan hal-hal baru baginya agar ia tetap ceria dan mengukir senyumnya yang indah. Kau pasti akan menyaksikan senyum tipis yang berkolaborasi dengan kondisi alam melengkapi keindahan kemudian menghdirakn pemandangan di pantai ini membuat yang suasana hati benar-benar terlempar dalam keseharian kami. Apa yang diakatakan Heiddeger tentang ‘Dunia’ sedang kami alami bersama. Kebersamaan yang baru terjalin beberapa hari membuatku benar-benar kerasaan didalamnya yang hingga kini belum juga aku tahu seperti apa perasaakau padanya.

Dalam sebuah obrolan kami dibawah rindangnya ranting dedaunan, dia menunjuk kearah sebauh perahu kemudian menagatakan keinginanya untuk mendayung. Keinginannya terpenuhi, dan kamipun berdayung bersama melihat karang-karang indah bawah laut yang aneka warnanya smembentuk sebaris pelangi di dasar  laut. Taman laut yang masih benar terpelihara sehingga ikan-ikan dengan berbagai macam warna mendekat dan berteduh dibawah perahu yang kami naiki. Ia berkata kalau pemandangan seperti ini tak bisa dijumpai lagi di negerinya, disebabkan oleh limbah industri yang dibuang ke laut sehingga mematikan ribuah spesies ikan yang ada. Gadis itu mencelupkan tangannya ke dalam laut, tiba-tiba munculalah beberapa ekor ikan berwarna merah dengan sisik putih yang agak kasar yang ukurannya sekitar 14 Cm. Ikan-ikan itu tampak jinak bersandar di jemari tangannya sehingga ia berhasil memegang  salah-seekor diantarnya.  Tak lama kemudian ia melepaskannya, dan berkata kalau ada mitos di negerinya yang tidak mengijinkan mereka tuk makan daging ikan. Sebauh pernyataan yang mengajak aku harus menghargainya.

Hari semakin panas, mentari semakin sombong memancarkan sinarnya ke laut yang terbuka. Laut yang biru bercampur cahaya mentari menghasilkan warna biru metalik memperjelas akan dalamnya laut ini. Gadsi itu masih saja memandang keindahan karang,  namun jika anda perhatikan, ia sama sekali  tak memperhatikan keindahan itu melainkan wajahnya yang tergandakan oleh beningnya air laut, sebuah kesempatan baginya untuk bercermin. Setets air matanya jatuh kedalam  laut membentuk gelombang kecil indah diatasnya. Aku tahu dia sedang sedih. Tiba-tiba ia berdiri mendekat kearahku dan menjatuhkan badannya dipangkuannku. Isak tangisnya membuat ia bergetar yang getarannya bisa kurasakan hingga ke alam dadaku. Aku dibautnya hampir terlena, pelukannya pun semakin erat. Dengan bahasa  yang sedih ia memintaku tuk mencari dan menemui keluargnya.    

Tiga jam sudah kami diatas laut, dan tiga jam pula menjadi waktu kemudian saksi kalau aku bukan lagi kasihan sama gadis itu, melainkan rasa yang bercampur dengan kasih sayang atau mungkin juga iba yang lahir dari permainan tanda “bahasa” kami berdua. Rasa yang hampir merubah pikiranku tuk tetap dekat dengannya. Hari semakin sore, kami pun masih terapung dilaut. Gadis itu tertidur dipangkaunku, sebuah kesempatan bagiku tuk menatap dalam wajah sedihnya, wajah yang benar-benar natural tanpa polesan apapun. Karena waktunya untuk pulang, aku membangunkannya, gadis itu terbangun dalam keadaan terisak dan tetap melekatkan kepalanya dipangkuanku. Tapi aku berhasil membujuknya, dan kami pun bergegas pulang.

Hari semakin malam, dan karena kecapean membuat  dia harus lebih awal tuk istirahat. Namun sebelum tidur kami terlibat dalam sebuah percakapan singkat. Gadis itu mengungkapkan rasa terima kasihnya padaku akan semua yang telah ku lakukan padanya, ia berkata kalau persaannya padaku telah berubah semenjak ia tertidur dipelukanku. Aku bertanya seperti apa perasaan itu?, sebuah pertanyaan yang mengharapkan sesuatu untuk ia ungkapkan, tapi dia hanya berkata kalau ia merasa senang dan ceria berada disisiku, rasa yang menurutnya mustahil diutarakan dengan bahasa oral. Gadis tersebut mengakhiri percakapan itu dengan pengharapan semoga kita bisa bersama lagi seperti di siang tadi.  Ia pun memejamkan matanya. Aku bergegas keluar dari kamarnya, dan mengambil bagianku untuk beristirahat dikamar sebelah.         

Hari telah pagi, sang mentari berhasil menembus jendela kamarku. Matahari pagi yang tak begitu terik menyentuh setengah  badanku, namun membuatku terjaga dari tidurku. Dengan tergesa-gesa aku pun berlari keluar bermaksud melihat gadis itu, namun dia sudah tidak lagi berada disana. Ke kamar mandi, dapur dan ruang tamu sudah ku cari namun tetap saja nihil.

Aku memutuskan kembali ke ranjang tidurku dan memberikan sedikit waktu tuk merenung, dan aku baru sadar kalau pertemuanku dengan Gadis itu hanya dalam Mimpi semalam. Mimpi yang membuatku termenung seharian. Wajah gadis aneh itu benar-benar menghiasi isi kepalaku, sehingga aku hampir tak bisa mempercayai apakah itu hanyalah mimpi ataukah benar-benar terjadi.

Aku tak tahu apakah ini gejala somatic ataukah mental dari mimpi itu. Ya,…mimpi semalam berhasil membuatku larut, dan aku hampir berkesimpulan juga apakah ini memang “nyata” dalam dunia skizofrenik? Apakah kejadian Jhon Nash dalam beautiful Mind sedang aku alami?. Tidak, saya yakin tidak, itu hanyalh mimpi namun tak pernah berawal dari sebuah fantasi atau imaji apapun. Aku tak pernah berfantasi bahkan berimajinasi apapun sebelum tidur. Jadi, sekali lagi ini hanyalah mimpi tanpa fantasi apapun. Namun dalam kesadaran penuh, aku berharap semoga bisa bertemu lagi dengan gadis itu dalam mimpi selanjutnya, agar aku bisa menanyakan siapa namanya?. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar