Sabtu, 28 Januari 2012

Senja diatas Kanvas Dedaunan

Kulihat matamu tersimpan sejuta ikhwal pemberontakan. Setiap kali kau melirik, bekas tatapanmu selalu disinggahi nada-nada kecemburuan akan hasrat yang lama kau pendam, sehingga siapapun yang ada disampingmu tak akan berani beresiko menatap dalam apapun yang telah disinggahi oleh binar matamu. Bekas tatapanmu terlihat seperti lukisan abad klasik yang hanya menempelkan tangan  mereka ke sebuah batu kemudian menutupnya dengan wewarnian daun, sebauh permainan gaya mistisime atau propaganda yang kini dan selanjtnya telah kau tuangkan menjadi sebuah permainan warna pada setiap jantung hewani, tanpa sadar jejak lukisan itu begitu kentara dalam kelopak mataku.

Senja ini begitu kemerahan. Tiada lain hanya aku dan dirimu yang menatap jauh arah yang masih diselubungi rumah laba-laba. Semantara disekitar kita bepijak, terhampar daun-daun setengah kering jatuh ke tanah. Sebuah lapak natural yang memaksakan segala dedauan harus mengikuti senja berwarna merah. Kau mengidentifikasikan dirmu dengan para tokoh-tokoh klasik yang berani menebar hasrat pemberontakan. Aku  tetap saja menjadi namaku yang mungkin kau miliki, sementara eksistensiku masih mengawang bersama dedauan yang jatuh tersanggkut disisi ranting. Ooh, aku seperti objek para perupa kubisme yang mengacak setiap kubus ragaku menjadi bagian-bagian estetis kemudaian meletakanku dalam sebuah geometrik tanpa simpulan apapun. Dan tiba-tiba datang segerombol para surealis abad pertengahan yang membuatku semakin tak jelas dimata para penikamat kisah-kisah romantis. Kini aku seperti dalam mimpi, tak jelas wajah seperti apa yang kutemui. Tapi esesnsi dari permainan warna yang kau ukir didadaku tak mungkin hilang dari amatanmu.

Dihadapan kita, berdiri tegak sebuah kursi kosong berwarna hitam. Sebuah warna yang kontras dengan senja ini. Kau seperti terlibat dalam kebencian ala impresionis yang membenci waran hitam, atau terkondisikan oleh para sufi yang manamakan hitam dengan kubah malam yang membelenggu. Aku tetap berusaha meyakinkanmu bahwa hitam juga adalah warna. Setengah sadar, kau mengiyakan. Namun, seperti tatapan para hipnoterais, ketika matamu menembus kesadaranku, yang kudengar dan kurasa adalah sugesti penyerahan diri. Tapi aku masih saja menjadi manusia ala Freud, dan kau segera merubah pandanagnmu ketika mendengarku bercerita tentang segala keindahan bebintangan dan rembulan karena adanya kegelapan atau kehitaman, dan kau menerima bahwa hitam adalah cahaya. Tiba-tiba Isyarat liar matamu seolah melabrak moralitas alami, membuatku seperti berada dalam cerita-cerita roman klasik prancis, dan memaksaku tuk harus duduk bersamamu diatas kursi hitam itu. Disini, aku masih belum tahu, apakah itu aku yang bersamamu dalam senja ini?. Atau apakah itu aku yang bersamamu duduk diatas kursi ini?.

Kini, kau dan diriku setengah berani menanggalkan pakaian kita masing-masing. Disisi kanan dan kiri segalanya menjadi lebih merah. Dari sisi ranting yang setengah kering, jingga mentari berhasil menembus setiap kekosongan membuat senja kan ramai dengan kecerahan. Nafasmu kudengar mendesah, gerak jantungmu seperti hentakan kaki kuda para prajurit muda dimedan laga, matamu tetap searah menatapku. Kita saling menatap. Tiba-tiba-tiba datang seorang perwira dari jantung pemberontakanmu membawa sepenggal kalimat “aku bingung harus berperang dengan siapa, ataukah memang aku tidak mau berperang?”. Ooh kau, kita seperti menjadi objek terlarang para dadaisme diwilayah netral dalam masa perang dunia pertama, namun hingga kini kita belum terpajang dalam galeri-galeri kekuasaan kehidupan. Entah, berada dimana kita saat ini.

Kau tak pernah berkata apapun, hanya memandalng lepas kearah dedaunan yang kian merah. Saat itu senja semakin mengalah saat mentari perlahan terbit. Tak ada lampu, tak ada lilin dan aku percya jika malam meruncingkan hitamnnya, kemerahanmu kan kan lenyap dalam dadaku dan berubah menjadi seberkas cahaya bak kunang-kunang ditengah gemerlap. Tapi hasrat pemberontakan yang masih bertuan diamatamu memberi isyarat lain sehingga relativitas ala Einstein berhasil menahan laju mentari, kemudian memaksaku tuk harus memulai kesetiaan poetika untuk menjawab kata-kata kebisuanmu. Aku berkata “persetan dengan realitas, jika mau, aku akan menjadi subjek pengetahuan ala Deleuze-Guittari kemudian menjadikan kita berdua menjadi pemberontak terhadap kompleks oedipus ala Freudian”. Namun kau tetap saja bisu dan membiarkan dirmu larut dalam kemerahan dedaunan.

Walapun aku tak sanggup menatap dalam matamu, cobalah tatap kearahku, Kenapa kau begitu gementar ketika harus memberi sentuhan warna lain pada kehidupan?, apakah masih saatnya lagi untuk menciplak cerita atau kisah-kisah indah yang telah baku dalam rak perpustakaan?. Hidup ini bukan seperti cerita para realis yang menulis apa adanya tentang kehidupan, hidup ini bebas mengalir namun tetapalah menacari jalan yang paling rendah.

Sepenggal angin tipis senja menabrak kulit lehermu, membuatmu kaget dan terbawa seperti gombalan para pria hidung belang. Kau menjadi dingin, menjadi lemah sehingga kemerahan tatapanmu sesegera berubah menjadi wajah yang merindukan sebuah pelukan hangat. Aku meraihnya, berlari mengejar kerinduan itu, sebuah kerinduan yang membuat kita begitu damai. disaat sedang menyuamkan jiwa kita dalam pelukan itu, kau malah teringat dengan sindiran Louis Vauxcelles ketika mengomentari pameran Salon d’Automnedalam dalam suplemen Gil Blas yang menyebut kita seperti bintang liar. Biarlah dia berkata apapun, bukankah kita telah berpendapat bahwa harmoni kehidupan  tidak hanya terpaut dengan kenyataan yang ada?, marilah memberi sentuhan yang berbeda pada alam, agar lebih memperlihatkan hubungan kemesraan kita dengan kemisteriusan alam ini.  Jangan biarkan pelukan ini hanya sesaat seperti para Fauvisme, tapi berdiri dan berontaklah seperti mereka yang menentang kemapanan. Masih ingatkah kau denga Albert Camus? “aku memberontak maka aku ada?”.

Kini kita harus menyerah pada relativitas, dan memberikan kesempatan buat einstein berpuisi dengan teorinya, biarkan senja ini berlalu dipeluk malam. Kemerahan dedauan tak mungkin lenyap, kegelapan tak mungkin menyakitimu. bukankah hitam tlah kau anggap warna?, bukankah kau tak lagi membenci Claude monet yang membenci hitam. Biarkan aku memelukmu erat karena pasti cahayamu akan bersinar terangi malam ku, dan mari menanatang regulasi dari Ordo Benediktin yang memaklumatkan bahwa tertawa itu bid'ah agar ada yang tersenyum indah melihat kisah diantara kita..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar