Kulihat matamu tersimpan sejuta ikhwal pemberontakan. Setiap kali kau
melirik, bekas tatapanmu selalu disinggahi nada-nada kecemburuan akan
hasrat yang lama kau pendam, sehingga siapapun yang ada disampingmu tak
akan berani beresiko menatap dalam apapun yang telah disinggahi oleh
binar matamu. Bekas tatapanmu terlihat seperti lukisan abad klasik yang
hanya menempelkan tangan mereka ke sebuah batu kemudian menutupnya
dengan wewarnian daun, sebauh permainan gaya mistisime atau propaganda
yang kini dan selanjtnya telah kau tuangkan menjadi sebuah permainan
warna pada setiap jantung hewani, tanpa sadar jejak lukisan itu begitu
kentara dalam kelopak mataku.
Senja ini begitu kemerahan.
Tiada lain hanya aku dan dirimu yang menatap jauh arah yang masih
diselubungi rumah laba-laba. Semantara disekitar kita bepijak, terhampar
daun-daun setengah kering jatuh ke tanah. Sebuah lapak natural yang
memaksakan segala dedauan harus mengikuti senja berwarna merah. Kau
mengidentifikasikan dirmu dengan para tokoh-tokoh klasik yang berani
menebar hasrat pemberontakan. Aku tetap saja menjadi namaku yang
mungkin kau miliki, sementara eksistensiku masih mengawang bersama
dedauan yang jatuh tersanggkut disisi ranting. Ooh, aku seperti objek
para perupa kubisme yang mengacak setiap kubus ragaku menjadi
bagian-bagian estetis kemudaian meletakanku dalam sebuah geometrik tanpa
simpulan apapun. Dan tiba-tiba datang segerombol para surealis abad
pertengahan yang membuatku semakin tak jelas dimata para penikamat
kisah-kisah romantis. Kini aku seperti dalam mimpi, tak jelas wajah
seperti apa yang kutemui. Tapi esesnsi dari permainan warna yang kau
ukir didadaku tak mungkin hilang dari amatanmu.
Dihadapan
kita, berdiri tegak sebuah kursi kosong berwarna hitam. Sebuah warna
yang kontras dengan senja ini. Kau seperti terlibat dalam kebencian ala
impresionis yang membenci waran hitam, atau terkondisikan oleh para sufi
yang manamakan hitam dengan kubah malam yang membelenggu. Aku tetap
berusaha meyakinkanmu bahwa hitam juga adalah warna. Setengah sadar, kau
mengiyakan. Namun, seperti tatapan para hipnoterais, ketika matamu
menembus kesadaranku, yang kudengar dan kurasa adalah sugesti penyerahan
diri. Tapi aku masih saja menjadi manusia ala Freud, dan kau segera
merubah pandanagnmu ketika mendengarku bercerita tentang segala
keindahan bebintangan dan rembulan karena adanya kegelapan atau
kehitaman, dan kau menerima bahwa hitam adalah cahaya. Tiba-tiba Isyarat
liar matamu seolah melabrak moralitas alami, membuatku seperti berada
dalam cerita-cerita roman klasik prancis, dan memaksaku tuk harus duduk
bersamamu diatas kursi hitam itu. Disini, aku masih belum tahu, apakah
itu aku yang bersamamu dalam senja ini?. Atau apakah itu aku yang
bersamamu duduk diatas kursi ini?.
Kini, kau dan diriku
setengah berani menanggalkan pakaian kita masing-masing. Disisi kanan
dan kiri segalanya menjadi lebih merah. Dari sisi ranting yang setengah
kering, jingga mentari berhasil menembus setiap kekosongan membuat senja
kan ramai dengan kecerahan. Nafasmu kudengar mendesah, gerak jantungmu
seperti hentakan kaki kuda para prajurit muda dimedan laga, matamu tetap
searah menatapku. Kita saling menatap. Tiba-tiba-tiba datang seorang
perwira dari jantung pemberontakanmu membawa sepenggal kalimat “aku
bingung harus berperang dengan siapa, ataukah memang aku tidak mau
berperang?”. Ooh kau, kita seperti menjadi objek terlarang para dadaisme
diwilayah netral dalam masa perang dunia pertama, namun hingga kini
kita belum terpajang dalam galeri-galeri kekuasaan kehidupan. Entah,
berada dimana kita saat ini.
Kau tak pernah berkata
apapun, hanya memandalng lepas kearah dedaunan yang kian merah. Saat itu
senja semakin mengalah saat mentari perlahan terbit. Tak ada lampu, tak
ada lilin dan aku percya jika malam meruncingkan hitamnnya, kemerahanmu
kan kan lenyap dalam dadaku dan berubah menjadi seberkas cahaya bak
kunang-kunang ditengah gemerlap. Tapi hasrat pemberontakan yang masih
bertuan diamatamu memberi isyarat lain sehingga relativitas ala Einstein
berhasil menahan laju mentari, kemudian memaksaku tuk harus memulai
kesetiaan poetika untuk menjawab kata-kata kebisuanmu. Aku berkata “persetan
dengan realitas, jika mau, aku akan menjadi subjek pengetahuan ala
Deleuze-Guittari kemudian menjadikan kita berdua menjadi pemberontak
terhadap kompleks oedipus ala Freudian”. Namun kau tetap saja bisu
dan membiarkan dirmu larut dalam kemerahan dedaunan.
Walapun
aku tak sanggup menatap dalam matamu, cobalah tatap kearahku, Kenapa
kau begitu gementar ketika harus memberi sentuhan warna lain pada
kehidupan?, apakah masih saatnya lagi untuk menciplak cerita atau
kisah-kisah indah yang telah baku dalam rak perpustakaan?. Hidup ini
bukan seperti cerita para realis yang menulis apa adanya tentang
kehidupan, hidup ini bebas mengalir namun tetapalah menacari jalan yang
paling rendah.
Sepenggal angin tipis senja menabrak kulit
lehermu, membuatmu kaget dan terbawa seperti gombalan para pria hidung
belang. Kau menjadi dingin, menjadi lemah sehingga kemerahan tatapanmu
sesegera berubah menjadi wajah yang merindukan sebuah pelukan hangat.
Aku meraihnya, berlari mengejar kerinduan itu, sebuah kerinduan yang
membuat kita begitu damai. disaat sedang menyuamkan jiwa kita dalam
pelukan itu, kau malah teringat dengan sindiran Louis Vauxcelles ketika
mengomentari pameran Salon d’Automnedalam dalam suplemen Gil Blas yang
menyebut kita seperti bintang liar. Biarlah dia berkata apapun, bukankah
kita telah berpendapat bahwa harmoni kehidupan tidak hanya terpaut
dengan kenyataan yang ada?, marilah memberi sentuhan yang berbeda pada
alam, agar lebih memperlihatkan hubungan kemesraan kita dengan
kemisteriusan alam ini. Jangan biarkan pelukan ini hanya sesaat seperti
para Fauvisme, tapi berdiri dan berontaklah seperti mereka yang
menentang kemapanan. Masih ingatkah kau denga Albert Camus? “aku
memberontak maka aku ada?”.
Kini kita harus menyerah pada
relativitas, dan memberikan kesempatan buat einstein berpuisi dengan
teorinya, biarkan senja ini berlalu dipeluk malam. Kemerahan dedauan tak
mungkin lenyap, kegelapan tak mungkin menyakitimu. bukankah hitam tlah
kau anggap warna?, bukankah kau tak lagi membenci Claude monet yang
membenci hitam. Biarkan aku memelukmu erat karena pasti cahayamu akan
bersinar terangi malam ku, dan mari menanatang regulasi dari Ordo
Benediktin yang memaklumatkan bahwa tertawa itu bid'ah agar ada yang
tersenyum indah melihat kisah diantara kita..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar