Sabtu, 28 Januari 2012

Aku Mencintai Ketakwajaran (Sebuah Antology Puisi)


Dengarlah

Dengarlah
Gunakan hatimu tuk mendengar
Atau, biarkan ia melihat betapa telanjangnya aku
Betapa merintihnya aku memanggil-manggil namu mu
Lihatlah
Kubah malam kian dekapkan seluruh rasaku
Atau mungkin, aku tak berdaya apapun akan segalanya tentang kamu?

Saat dadaku terhimpit akan sebuah kecerobohan indah
Aku tak merasa akan ada dosa disana
Atau tak berfikir telah melangkahi batas kemungkinan
yang angkuh dihadapanmu.
Aku pikir kita sama rasa ketika meliahat laut
Atau sama terbawa ketika mendengar alunan meditasi para biksu
Kita sama-sama tersenyum saat tatapanku kau rengguk dari mataku
Saling terkesima saat bercerita tentang kita saat pertama kali bertemu

Dengarlah..
Saat kedamaian bertuan didadamu ketika melihat hanya aku
Sesungguhnya disaat itu
Akulah yang pantas mendapatkan kedamaian itu
Saat malammu menjadi puitis akan hayal tentangku
Aku lah kata-kata itu
Yang kau tulis dalam lembar kisah hidupmu mu.
Tapi matahari akan segera terbit
Aku harus kembali menuai hati
Membagi kasih, atau mungkin berbalik hati
Aku tak tahu
Aku bingung

Dengarlah
Kau tak pernah salah
Takan pernah ..
Dan aku pun akan bersalah
Jika tak sedikit pun adanya cinta untukmu.


Malam ini aku mencintaimu
 
Malam ini aku mencintaimu
kemarin dan esok hanya kau yang kucintai
bahkn lebih dalam malam ini
melebihi kemarin juga esok

aku tak mencintaimu karena masa depanmu
juga tidak karena masa lalumu
iya, aku mencintaimu hanya karena malam ini
ia adalah abadi
melewati kemarin dan hari esok

Aku mencintaimu malam ini bukan lantaran kau adalah bebintangan
sebab ia kan sirnah jika didera mentari
juga malam ini aku mencintaimu bukan karena kau adalah rembulan
sebab cahayanya kan pudar bersama rotasi khatulistiwa
yang selalu menggoda hari

aku mencintaimu malam ini karena tak ada sesuara apapun yg kudengar
hanya rangkaian balok keheningan yang membentuk ritme kerinduan
hingga yang terngiang hanya namamu
yang merasuk kedalam pori-pori udara malam

Kau tahu ??
bukan hanya telingaku yang mendengar
tapi udara tipis yang menembusi kulit tipisku pun ikut mendengar indahnya namamu
kedinginan yang mendera seaakan takluk
kemudian berubah menajadi sebuah dekapan hangat

Malam ini aku mencintaimu
karena kemarin dan esok telah merapatkan masa-nya
membentuk dirimu dalam totalitas kerinduan malam ini....


Apakah Mesti Ku Ucap Lagi?

Sejuta rasa mencengkram kesadaran
Sejuta asa berpadu menjadi sebuah pinta
Tiada kata yang mampu menjelasakan
tiada makna yang bisa berdiri tegak
tiada bahasa yang mampu memahami
semuanya mengalir
semuanya begerak
             tanpa henti ...
bahkan lidah tak bisa berucap
semuanya bergerak bebas  teratur
mengalunkan nada-nada indah bak sepoi siulkan setiap nyiur

malam ini aku bisu
ruang ucap dicekoki ribuan bahasa
kadang merah, hitam, biru, kuning, puith
semuanya hadir bersama
semuanya melabrak kesadaran
entah, Anggur telah memabukanku

mana mungkin kata kan sanggup menjawab?
Mana mugnkin seorang pemabuk dapat berkata?
Yang kurasa hanyalah ketakberdayaan rasa
Yang ku dengar hanyalah sapaan kerinduanku
Yang kutulis hanyalah sebait mesra
Tapi Itu tak cukup

Aku benar-benar mabuk
Terpicu akan sebuah anugerah indah
Tersipu akan lintasan kemilau kosmis
Yang berrotasi dalam syahdumu

aku benar-benar bisu akan kata-kata
Tapi kesadaran kadang hinggap dalam sepenggal kalimat
Aku jatuh dalam keribaanmu
Aku lemah dihadapanmu
Seperti lemah dihadapan CINTA ku sendiri....

Semua itu karena mu
Apakah harus cinta mesti kuucap lagi??


Senyummu

Hei... seperti apakah kau malam ini
apakah wajah merahmu masih tetap tersenyum ceria?
ataukah lelap telah menjagamu?
aku percaya dalam tidurpun senyum mu itu masih saja terjaga
aku mersakannya
aku merindunya malam ini
bisakah kau layangkan padaku senyum tipis mu itu?

disaat pikir terbayang ialah kamu...
hanya bentuk wajah yang lahir dari senyum indahmu
aku tak tau, atau mungkin belum juga kutemukan
seperti apa wajahmu jika diderah amarah
malam ini aku seperti orang yang terhipnotis
hanya mendapat sugesti tuk selalu memabayngkan wajahmu ...
kau tahu???
hanya senyuman mu yang selalu bertuan dimataku...
tapi aku mencintaimu bukan hanya karena senyuman itu ...


Keharmonisanmu

Jejak suaramu adalah harmonisasi senar harpa
Sejauh penghayatan
Jejak itu semakin bercabang
Dalam setiap arah mata angin
Suaramu menggema getarkan sukma
Menjelma menjadi kekupu
Menghisap sgala sari rasaku

Binar matamu adalah harmonisasi kemilau warni
Sejauh memandang
Kemilau itu kian menyilau
Dalam gesekan udara dingin dengan air
Tatapanmu kian mengendap
Menyelinap diantara wewarnian kosmos
Hingga kau adalah pelangi yang mewarni

Saat ini
Kau adalah harmonisasi setiap keindahan
Sejauh rasa menghasta
Auramu mencandra disetiap kata
Senyummu menyelinap tirai gundahku
Jika rasa menghasta pada Sang Asa
Aku percaya, dalam keindah-harmonismu
Kaulah manifestasi segala keindahan sang Syakur,,


Dibawah Ranting Pinus

aku datang padamu disetiap senja kan menjingga
merangkai rasa yang tersaji indah diatas rerumputan pinus
entah, alam terlalu indah dengan wewarnian bunga
ataukah haru ku terbawa mesra saat petang kan datang menyejuk
kau melebarakan senyum hingga pelangi kan indah disisi bukit
aku terharu saat itu dikala matamu sayup meredup
silaukan rasa yang lama terpenjara

aku berdiri disetiap sisi citramu
menggengam asa yang tersipu haru diatas keheningan jiwa
entah, petang terlalu dini datangkan riang
ataukah syahduku berirama saat burung gema berkicau
kau menaburi keindahan hingga dunia ku terbuka akan kepastian
aku terbawa ketika auramu menjadi imaji
namun fikir kadang diam membaca tanda yang lama seirama

aku bicara padamu disetiap fikir adalah kamu
merangkai rasa yang terbentuk dari sepenggal senyum tipis
entah, petang terlalu cepat datangkan malam
ataukah syaraf imajiku mengerucut saat bebintangan kalahkan siluet
kau menghampiri tatapanku dengan segala wewarnian alam
aku terjebak dan sadar akan rasa adalah kamu
namun dingin terlalu merinding getarkan bibir tanpa kata apapun

kini penglihatanku silau saat matamu melintasi tatapanku
membuat bukit sekitar tak lagi nampak mengelopak
entah, kabut tlah merenggut setiap sudut
ataukah optiku terhalang binar menyilau saat lihat hanyalah kamu
kau menyapaku dengan segenggam tatapanmu
aku terdiam saat jejaring imaji yang terpuisikan ialah kamu
entah, apakah kau mengalami hal yang sama?




Senja Tak Lagi Menjingga 

Senja tak lagi menjingga
Aku melihat awan memperdalam kehitaman
Semakin petang keindahan menjadi kehilangan
Saat hujan riak menenggelamkan
Langkah menjadi kaku dalam pelukan
Aku berlari diatas setiap genangan
Mengejar angan yang mesti dituangkan
Tapi, tak ada lagi kubangan
Tak ada lagi laut kebiruan
Mencoba melewati jembatan berpengharapan
Namun jebakan semakin menyuamkan
Aku jatuh, jatuh bergelimpangan dalam setap retakan

Senja tak lagi menjingga
Aku melihat dalam diriku begitu kejauhan
Semakin mengenang kau menjadi khayalan
Saat rasa kian merindukan
Mata menjadi buta dalam perkataan
Langkah menjadi kaku dalam pendengaran
Aku berbiacara dalam tiap tatapan
Mengejar hasrat yang mesti kudapatkan
Tapi, tak ada lagi harapan
Tak ada lagi sapa kerinduan
Mencoba melewati rintanagan
Namun nurani insyaf menyadarkan
Aku menyesal, menyesalkan rasa yang lama terobralkan

Senja tak lagi menjingga
Begitu lama aku durhaka pada perasaan
Semakin jauh kian sadar aku akan penyesalan
Saat kau hadir dalam setiap jelmaan
Langkah menjadi kaku mengelisahkan
Aku berbicara dalam setiap ratapan
Mengukir pinta pada setiap kesalahan
Tapi, ego seolah jauh mengiklsahkan
Bawah sadar begitu gampang mengkondisikan
Mencoba tak mendengarkan setiap saran
Namun nurani insyaf menyadarkan
Aku menyesal, menyesalkan rasa yang lama terobralkan

Aku harus menyerah pada purnama dibalik mega
Dan berkata pada hujan yang menggema
Aku terjaga, aku terjaga dan terjaga
Senja tak lagi menjingga


Sunyi
 Berlari dan berlama-lama dalam kubangan yang tak pernah mengalir
Tanpa hulu juga hilir namun riak melaju seiring hasrat riang mendesir
Aku merasa berada dalam sepenggal laut
Membiru dan beratalu dalam rasa yang tak akhir menjurus
Hanya serpihan-serpihan kerinduan  menyapa dalam sebentuk kata
Aku seperti karang yang hanya diam saat ombak deruh bergemuruh
Menahan kecemburuan tanpa tahu dimana arus kan pecah berakhir
Atau seperti danau kecil ditengah rimba yang hanya ditemani cahaya sang bulan

Aku menjadi dingin dalam hamparan suam menyinari
Terperangkap dalam partikel cahaya yang terkadang meng-gelombang
Atau jatuh dalam dualitas cahaya para fisikawan
Hingga rasaku terdifraksi dibalik dinding cermin
Menguap, mengangkasa, bermetamorfosa menjadi butiran hujan
Tapi aku tetap saja berada dalam kubangan yang mengalirkan diri sendiri
Iya, aku masih saja terus mengalir tanpa tahu dimana kan berakhir

Saat musim panas berganti dedaunan berguran
Belama-lama nampak hijau mengering ditiap ranting
Sekuat mawar kan mekar, pun seteguh itu ku mengakar
Sayang..musim panas terlalu menukik
Meng-uap-kan segala bebasahan ditiap kubangan…
Aku harus berserah pada kejujuran
Memberimu rasa yang masih bimbang ditepi kubangan
Ku ingin mendekepamu sadalam biruku
Namun asa tlah menguap atau terhisap dalam asal kejadian
Suburkan rantingmu dalam harap kembali hijau

Walaun pun tak terliahat
Ku kan selalu menguap dalam semesta dimana kau adalah tetesan
Yang pernah dan selamnya sejukan dunia ku…

(By, Arie Samal)

1 komentar: